[Resensi] Zero Class #3: Legacy by Pricillia A.W.

Judul: Zero Class #3: Legacy

Pengarang: Pricillia A.W.

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Halaman: 296

Harga: Rp. 66.500,-

Hai, hai! Ini resensi pertamaku loh. Akhirnya, bisa juga aku pos-in di sini. Horeeeeeโ€ฆ *tebarconfetti *maapkeunkelebayankuย ๐Ÿ˜„

Oke, buku yang bakal aku ulas di pos pertama ini adalah novelย teenlitย karya pengarang muda Indonesia, Pricillia A.W.,ย Zero Class #3: Legacy.ย Iniย adalah buku terakhir dalam trilogi Zero Class. Aku pertama kali baca serial ini kalau nggak salah tahun 2013 deh. Dan sejak baca buku yang pertama itu, aku jatuh cinta sama tokoh Gita yang penuh semangat dan Radit yangย oh-so-sweetย banget. Makanya, aku bela-belain deh beli buku ketiga ini. Sayangnya, harus kukatakan, aku agak kecewa. Apa pasal? Aku ceritain di bawah ya. So, keep reading, guys!

Sinopsis

IMG20150830100030

Buat yang belum pernah baca serialย Zero Class,ย sinopsis buku 1 dan 2-nyaย silakan di-googleย sendiri yaaa. Dan buat kamu-kamu yang nggak suka dikasih tau akhir cerita sebuah novel tanpa membacanya terlebih dahulu, disarankan untuk tidak membaca ulasan ini dulu. Soalnya, di buku ketiga ini sebagian besar misteri sudah terpecahkan sih. Etapi, kalo kamu tetep mau baca juga nggak papa sih. Aku nggak ngelarang kokย ๐Ÿ˜€

Oke, balik lagi keย review. Jadi, di buku ini si Arfa mulai melancarkan aksinya. Rencana-rencana liciknya mulai dijalankan untuk membalas dendam kepada Radit. Dia terutama menggunakan taktik psikologis, yaitu mengadu domba anak-anak kelas 11 IPS 4, agar mereka terpecah-belah dan saling mencurigai. Targetnya hanya satu, yaitu menghancurkan Radit. Dia bahkan tak segan-segan menyakiti mereka yang menghalanginya, termasuk Gita, walaupun Arfa sudah dilarang oleh Andro.

Di sini juga diungkapkan mengapa Arfa sangat dendam pada Radit. Rupanya, dia menyalahkan Radit atas hancurnya keluarganya bertahun-tahun yang lalu. Karena dendam kesumatnya itu, dia akhirnya membentuk Zero Class untuk menyudutkan Radit. Etapi, kok bisa sih dia bikin kelas โ€œbuanganโ€ itu? Kan, dia cuman murid SMA. Ya, bisa, dong, karena dia punya orang dalam yang bantuin dia. Siapa? Ya kamu baca sendiri aja di bukunya yah. Ntar kamu jadi nggak penasaran lagi :p

Seperti yang aku bilang di awal tadi, aku agak kecewa sama novel ini. Ada beberapa poin yang bikin aku nelangsa saat baca buku ini. Aku tulisin poin per poin biar lebih gampang jelasinnya.

  1. Terlalu banyak karakter yang dibahas, sehingga fokus jadi bergeser jauh dari tokoh utamanya, Gita dan Radit. Akibatnya, karakter Gita yang di buku pertama begitu kuat jadi melempem, dan karakter Radit jadi nggak berkembang sama sekali.
  1. Agak bertele-tele dalam menggambarkan serangkaian kasus yang menimpa anak kelas 11 IPS 4, sehingga bikin aku lumayan bosan bacanya.
  1. Konflik adu dombanya menggantung dan kurang greget. Sebenarnya taktik adu domba yang dipakai Arfa ini bagus. Dia sengaja mengembuskan kecurigaan terhadap Gita kepada Letta dan Raga. Sayangnya, Letta dan Raga nggak mengonfrontasi Gita, padahal mereka sangat yakin kalau Gita itu pengkhianat. Apalagi jika mengingat sifat temperamen Raga, rasanya wajar kalau cowok itu sampai melabrak Gita walaupun sudah dilarang Radit. Sayangnya, masalah adu domba ini nggak dikembangkan lagi.
  1. Kemunculan karakter Andro menurutku nggak penting banget buat kesuluruhan cerita. Mungkin pengarangnya bermaksud memberi Radit saingan cinta, tapi menurutku jadinya malah antiklimaks. Hubungan Andro dan Gita, dari saat jadian sampai akhirnya putus, terkesan dipaksakan dan klise. Kalo memang ini dimaksudkan sebagai cinta segitiga, konfliknya nggak terasa sama sekali. Tapi, kalo nggak, harusnya si Andro nggak usah dimunculin aja sekalian. Terus, gara-gara dia, momen-momen manis antara Gita dan Radit jadi menurun drastis yang malah bikin keseluruhan cerita jadi hambar. Padahal setelah buku pertama aku sangat mengharapkan ada gebrakan dahsyat dari Radit buat ngedapetin Gita. Apalagi di buku kedua Radit makin memperlihatkan perhatiannya ke Gita. Iya, Radit emang nembak Gita, tapi setelah itu jadi adem-ayem lagi, monoton lagi. Sayang sekali, karenaย chemistryย Gita dan Radit di dua buku terdahulu sudah bagus banget, tapi jadiย wastedย di buku terakhir ini. Duh!

Curhatannya Andro

  1. Daripada cerita tentang jadiannya Gita-Andro, aku sebenernya berharap ada elaborasi lebih jauh lagi mengenai janji Gita ke Letta untuk nggak bakalan pernah nerima perasaan Radit. Sedikit pertentangan batin yang menguras tenaga, mungkin? Sedikit gontok-gontokkan antara Gita dan Letta gara-gara rebutan Radit juga boleh deh. Nggak sampe yang cakar-cakaran ato jambak-jambakkan juga sih. Tapi sedikit konfrontasi terbukalah mengenai perasaan masing-masing. Dan sedikit konfrontasi Radit ke Letta juga karena sudah bikin Gita janji kayak gitu (misal: โ€œEmang elo sapa, Let? Emak gue?โ€ gituโ€ฆ) Daripada adem-ayem gitu, terus, BAM! Gita jadian sama Radit. Dan Letta pasrah aja nerima padahal sudah bela-belain menjauhkan Radit dari Gita. Kurang greget aja sih menurutku.Gara-gara kehadiran Andro juga, plot cerita malah jadi bergeser, nggak fokus ke acara balas dendam Arfa dan perkembangan hubungan Gita-Radit lagi. Malahan, aku ngerasa jadi baca dua cerita dalam satu novel selain tentang Zero Class, yaitu tentang masa lalu kelam Andro dan pergolakan batinnya setelah sang ibu meninggal. Ini malah bikin karakter Andro jadi lebih kuat dari Radit. Yang selalu melindungi Gita malah jadi si Andro. Padahal yang tokoh utama kan Radit. Seharusnya dia yang selalu melindungi Gita. Bahkan, Nathan saja menunjukkan perkembangan karakter. Jadi, menurutku, tokoh utama di buku ketiga ini malah si Andro.ย Which isย mengecewakan buatku karena Andro bagaikan perusak suasana -_- Beda cerita ya kalo novel ini memang berkisah tentang Andro dan bukannya Radit, maka menurutku karakter Andro bakalan jadi keren banget deh.

Weleh, banyak amat ya yang bikin kecewa. But, please donโ€™t get me wrong. Aku suka sama serial ini, tapi buku ketiga ini memang bukan favoritku. Aku suka sama buku kedua karena di situ misterinya sedikit demi sedikit mulai terungkap. Apalagi Radit mulai terang-terangan nunjukkin perhatian ke Gita. Tapi, aku kepincut habis-habisan sama buku pertama, soalnya Gita dan Radit bener-bener manis di situ. Meski demikian, karena ini trilogi, jadi buku ketiga harus dibaca juga dong. Masak nggak sih, kan nggantung jadinya. Pokoknya, asalkanย happy ending,ย aku nggak keberatan ngerasa galau-galau dikitย ๐Ÿ˜€

Oya, tentang diskriminasi di sekolah, aku sungguh berharap hanya terjadi di novel-novel saja. Nggak kebayang rasanya andaikata ini terjadi di dunia nyata. Apalagi para guru juga turut serta dalam tindakan tidak terpuji ini. Semoga nggak ada guru di Indonesia yang diskriminatif, menghakimi dengan cerita yang nggak berimbang, nggak adil, dan memusuhi para murid. Semoga guru yang seperti itu hanya ada di novel saja.

My rate:ย โ™ฅโ™ฅ

Will I recommend it? Kalo kamu sudah baca buku satu dan duanya, buku ketiga memang wajib dibaca sebagai penutupnya. Kalo belum baca sama sekali, ya baca aja. Lumayan menghibur, kok. Apalagi kalo kamu suka sama cerita-cerita cinta di sekolah. Tapi, buat adik-adik manis, acara balas dendam dan segala bentuk kekerasan di novel ini jangan ditiru yaaa. Kalo bahasa Banjarnya, donโ€™t try this at home :p

Okeh, segitu duluย review-an sok tau dariku. Sampai jumpa di-review berikutnya ya.

Ciao ^_~

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s