[Resensi] Cinder by Marissa Meyer, Kisah Cinderella di Era Futuristik

“Mereka mengambil gaun-gaunnya yang indah, menyuruhnya memakai baju kerja abu-abu tua, dan memberinya sepatu tua.”

cinder

Detail Buku
Seri: The Lunar Chronicles #1
Genre:Β young adult, fantasy, dystopian, romance
Penerbit: Spring
Penerjemah: Yudith Listiandri
Penyunting: Selsa Chintya
Proofreader: Titish A.K.
Cetakan I: Januari 2016
Bahasa: Indonesia
Jumlah halaman: 384
ISBN: 978-602-71505-4-6
πŸ’: 4 of 5

πŸ€ Blurb

Wabah baru tiba-tiba muncul dan mengecam populasi penduduk Bumi yang dipenuhi oleh manusia, cyborg, dan android. Sementara itu, di luar angkasa, orang-orang Bulan mengamati mereka, menunggu waktu yang tepat untuk menyerang.

Cinder, seorang cyborg, adalah mekanik ternama di New Beijing. Gadis itu memiliki masa lalu yang misterius, diangkat anak dan tinggal bersama ibu dan dua orang saudara tirinya. Suatu saat, dia bertemu dengan Pangeran Kai yang tampan. Dia tidak mengira pertemuannya dengan sang Pangeran akan membawanya terjebak dalam perseteruan antara Bumi dan Bulan. Dapatkah Cinder menyelamatkan sang Pangeran dan Bumi?

πŸ‚πŸ‚πŸ‚

Linh Cinder terkenal sebagai seorang mekanik terbaik di New Beijing. Dia mampu memperbaiki barang elektronik apa pun. Namun, ada satu β€œkeistimewaan”-nya yang tidak dimiliki oleh orang lain: dia seorang cyborg. Cyborg adalah cybernatic organism, yaitu makhluk hidup yang memiliki bagian-bagian tubuh robot.

Suatu hari, seorang pemuda mendatangi stan kecil Cinder di pasar dan memintanya untuk memperbaiki android tua pemuda tersebut. Betapa terkejutnya dia saat mengenali pemuda itu sebagai Pangeran Kai, pewaris takhta kekaisaran Persemakmuran Timur. Memandang pemuda itu dari jarak dekat membuat Cinder sadar bahwa dia tidak imun terhadap pesona sang Pangeran seperti yang selama ini dia yakini.

β€œβ€¦Meskipun Pangeran Kai sudah lama menjadi salah satu topik favorit Peonyβ€”gadis itu mungkin sudah menjadi anggota semua grup fan Pangeran di Internetβ€”Cinder tidak pernah membayangkan bahwa dia juga akan merasakan kekaguman yang sama.” β€”hlm. 43.

Sementara itu, wabah letumosis semakin ganas. Wabah ini telah merenggut ratusan ribu jiwa di seluruh dunia sejak pertama kali ditemukan dua belas tahun yang lalu. Pangeran Kai berusaha sekuat tenaga untuk menemukan vaksin demi mengatasi wabah yang telah membunuh kedua orang tuanya itu, salah satunya dengan cara melanjutkan regulasi cyborg. Regulasi ini mewajibkan para cyborg di Persemakmuran Timur yang terpilih dengan cara diundi untuk menjadi kelinci percobaan dalam pengujian vaksin, dan berkat ibu tirinya, Cinder terpaksa menerima nasib untuk menjadi kelinci percobaan tersebut.

Cinder pun akhirnya dibawa ke fasilitas penelitian vaksin letumosis. Walaupun murka luar biasa, dia sudah pasrah, yakin bahwa dirinya tidak akan pernah keluar dari tempat itu hidup-hidup. Namun, ternyata Cinder berhasil selamat dari pengujian tersebut dan, bersamaan dengan itu, masa lalunya yang penuh misteri pun mulai terungkap.

πŸ‚πŸ‚πŸ‚

Jujur saja, awalnya aku nggak begitu antusias sama serial ini karena ceritanya berdasarkan fairytale yang menurutku sudah mainstream banget. I was like, Cinderella? Seriously? Tapi, lama-lama aku penasaran juga, soalnya banyak review positif mengenai serial ini. Ditambah lagi, promosi dari penerbitnya yang jor-joran banget, bikin aku akhirnya tergoda juga. Inilah masalahnya kalau kamu keseringan stalking IG-nya penerbit-penerbit itu. Bikin kamu yang awalnya cool aja akhirnya luluh juga πŸ˜₯

Aku mulai membaca novel ini tanpa ekspektasi yang tinggi. Because, you know, Cinderella and all. It turned out, I. LOVED. IT. So much. Aku suka banget dengan penokohannya. Cinder sang Mekanik. Karena profesinya itu, dia jadi selalu kotor. Ini pas dengan karakter Cinderella yang memang selalu kotor karena harus membersihkan rumah setiap hari. And a cyborg! That’s a really nice touch, I have to say.

Betewe, aku baru tau loh kalo dongeng Cinderella ini aslinya berasal dari negeri Tiongkok. Pantesan aja latar tempat dalam cerita ini adalah New Beijing. Selain itu,Β backgroundΒ era ketiga yang futuristik banget menurutku adalah ide yang brilian. Sependek pengetahuanku, selama ini kan cerita-cerita yang terinspirasi dari dongeng Cinderella kebanyakan berlatar zaman dulu atau kontemporer, tapi belum pernah yang berlatar futuristik, apalagi Cinderella-nya seorangΒ cyborg. Jadi iniΒ freshΒ banget menurutku.

Cerita berjalan sangat lambat. Di bab-bab awal, aku sempat merasa bosan. Aku tidak tahu ceritanya akan mengarah ke mana. Tapi ketertarikanku terpantik kembali saat masa lalu Cinder mulai terkuak. Aku memang sudah menebak siapa Cinder sebenarnya, mengingat novel ini berdasarkan salah satu dongeng paling populer di dunia. Tapi itu tidak lantas membuat akhir cerita jadi mudah ditebak.

Seperti halnya dongeng Cinderella, di dalam cerita ini Cinder juga diundang untuk menghadiri pesta dansa tahunan kerajaan. Di sinilah yang membuatku penasaran. Kalau di cerita aslinya kan Cinderella ditolong oleh ibu peri untuk bisa menghadiri pesta dansa. Lalu, bagaimana dengan Cinder? Apa dia dibantu oleh ibu peri juga? Aku nggak bakal kasih tau. Kalian langsung aja baca bukunya sendiri yaaa. MUAAHAHAHAHA *ketawazahat*

πŸ€ Karakter

Linh Cinder adalah seorang remaja berusia tujuh belas tahun dengan selera humor sarkastis yang menggelitik. Dia jauh sekali dari imej Cinderella yang sering digambarkan sebagai seorang gadis cantik jelita lemah gemulai berhati malaikat. Alih-alih, Cinder digambarkan sebagai seorang gadis yang luar biasa cerdas dan berbakat, tomboy, agak skeptis, dan, walaupun tidak dijabarkan secara gamblang, Pangeran Kai berpendapat dia adalah gadis yang cantik. Cinder menyimpan kemarahan dan kepahitan dalam dirinya karena perlakuan buruk ibu dan saudara tirinya. Mungkin inilah yang membentuk karakternya menjadi sinis. Meski begitu, Cinder ternyata berhati lembut, karena dia sangat menyayangi adik tirinya, Peony, dan android-nya yang unik, Iko.

Pangeran Kaito bisa dibilang cowok idaman. Tampan, bertubuh tinggi (menurut Iko), baik hati, bijaksana, rela berkorban demi orang lain, dan, tentu saja, seorang PANGERAN! Cewek mana yang nggak suka sama pangeran, coba? XD Aku suka dengan sikapnya yang selalu optimis walaupun dihimpit oleh beratnya tanggung jawab sebagai penerus takhta kekaisaran dan intimidasi Levana. Dia memang cocok sekali dengan Cinder yang selalu skeptis. Saling melengkapi gitu deh.

Iko adalah tokoh favoritku di buku ini. Karakternya yang ceria sangat menghibur. Iko memang unik, karena dia tidak seperti android kebanyakan. Dia lebih seperti manusia yang punya perasaan daripada robot yang sudah diprogram.

Cinder beringsut. “Bisakah kita tidak bicara tentang Pangeran?”

“Kupikir itu tidak mungkin. Lagi pula, kau kan sedang mengerjakan androidnya. Coba pikirkan hal-hal yang android ini ketahui, hal-hal yang dia lihat, dan…” Suara Iko tergagap. “Apakah kau pikir dia pernah melihat Pangeran tanpa pakaian?”β€”hlm. 191.

Linh AdriΒ adalah ibu tiri Cinder. Seperti di cerita aslinya, ibu tiri Cinder memang jahat. Perlakuannya terhadap Cinder keterlaluan sekali.Β Di buku ini karakter Adri memang tidak dielaborasi lebih dalam. Dia hanya digambarkan sebagai ibu tiri yang jahat dan membenci Cinder.

Linh Pearl & PeonyΒ adalah saudari tiri Cinder. Pearl tidak suka pada Cinder. Seperti halnya Adri, karakter Pearl tidak digali lebih dalam. Berdasarkan beberapa scene-nya, aku menangkap Pearl adalah gadis yang egois dan suka seenaknya.

Berbeda dengan Pearl,Β Peony memperlakukan Cinder dengan baik. Itu sebabnya Cinder sangat menyayangi adik tirinya yang manis ini. Aku juga suka sama Peony. Dia seperti remaja kebanyakan yang ngefan berat sama Pangeran Kai. Sayang sekali kita harus berpisah dengannya di buku pertama ini. Such a short journeyΒ πŸ˜₯

πŸ€ Alih Bahasa & Desain Sampul

Penerjemahannya sangat baik, lancar, dan mudah dimengerti. Karena sang tokoh utama adalah seorang mekanik, maka tentu saja banyak istilah mesin yang muncul. Penyertaan catatan kaki di novel ini sangat membantu dalam memahami istilah-istilah tersebut.

Untuk sampulnya sendiri menurutku unik. Dengan hanya menampilkan sebelah kaki yang mengenakan sepatu, penggambaran Cinderella-nya dapet banget. Dan bookmark-nya! Ya ampun, lucu bangeeet 😣😍Sayangnya, ukuran bookmark-nya ini kekecilan menurutku. Jadinya aku sering kebingungan nyari-nyari karena sering nyempil ke mana-mana gara-gara ukuran mininya itu. Aku emang lebih suka yang big size #eh 😝

photogrid_1486124622417

Imut-imut >_<

πŸ€ Overall

Meskipun mudah diprediksi, Cinder cukup menyenangkan untuk dibaca. Buku ini cocok untuk pembaca remaja. Aku juga merekomendasikan buku ini untuk para penggemar cerita distopia dengan bumbu fantasi, fairytale, dan romansa manis.

Iklan

5 thoughts on “[Resensi] Cinder by Marissa Meyer, Kisah Cinderella di Era Futuristik

    • Iya, menurutku Cinder ini memang agak terlalu ringan kalo dimasukkin ke genre distopia yg biasanya berat2 model The Hunger Games. Tapi lumayan lah buat selingan. Baca yg berat2 terus entar malah depresi, lagi. Hehehe πŸ˜„

      Makasih sudah mampir ya 😘

      Suka

  1. Ping-balik: [Chit-Chat 3] Book Haul Jan-Feb 2017 | Rak Novel Gita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s