[Resensi] Hopeless by Colleen Hoover

“Langit selalu cantik. Meskipun cuaca gelap, hari hujan, atau berawan, langit tetap cantik dipandang.”

PhotoGrid_1489128322490

Judul terjemahan: Tanpa Daya
Seri: Hopeless #1
Genre: young-adult, romance
Alih Bahasa: Shandy Tan
Editor: Intari Dyah Pramudita
Desain sampul: Marcel A.W.
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Terbit: 2015
Jumlah halaman: 496
ISBN: 978-602-03-1201-9
Sumber: Pinjam di iJak
💝: 5/5

🌿 Blurb

Terkadang mengetahui kebenaran lebih membuat putus asa ketimbang meyakini kebohongan…
Itu yang Sky sadari begitu ia bertemu Dean Holder. Dikenal gara-gara reputasi buruknya di sekolah, hanya Holder yang sanggup membuat jantung Sky berdebar-debar. Membuat gadis tujuh belas tahun itu takut sekaligus terpesona pada sikapnya yang tak mudah ditebak. Tapi Holder sumber masalah. Apalagi sejak cowok itu hadir, kenangan lama yang lebih baik terpendam kembali menghantui.
Masalahnya, Holder terus mendekat. Memaksa ingin mengenal Sky lebih jauh. Sky pun akhirnya menyerah. Menyambut cowok itu memasuki hidupnya. Hanya untuk mengetahui kebenaran, bahwa Holder tidak seperti yang dia katakan. Bahwa ada rahasia yang dia sembunyikan. Dan ketika rahasia itu tersingkap, hidup Sky tak pernah sama lagi.

🍃🍃🍃

Linden Sky Davis adalah seorang remaja yang unik dan langka. Bagaimana tidak, di usianya yang sudah tujuh belas tahun, dia tidak punya akun Facebook. Dia bahkan tidak punya TV, ponsel, apalagi e-mail. Hal ini terjadi lantaran ibunya, Karen, sangat antiteknologi. Menurut Karen, teknologi adalah sumber kejahatan.

Sky juga tidak pernah sekolah di sekolah umum. Dia menjalani pendidikan homeschooling nyaris seumur hidupnya. Ini membuat Sky praktis terkucil dari dunia luar dan tidak punya teman, kecuali Six yang merupakan satu-satunya sahabat sekaligus tetangganya. Dan karena Six-lah, Sky memutuskan untuk masuk ke sekolah umum yang sama dengan Six.

Setelah berbulan-bulan membujuk Karen, Sky akhirnya diizinkan untuk masuk sekolah umum. Sayangnya, tidak berapa lama kemudian, Six mengumumkan bahwa dia akan mengikuti program pertukaran pelajar ke Italia selama enam bulan. Jadilah Sky terpaksa menjalani hari-hari pertamanya di sekolah umum yang asing seorang diri.

Bersahabat dengan Six membuat Sky harus menanggung konsekuensi dicap sebagai cewek jalang. Itu karena Six punya reputasi sebagai cewek yang sering gonta-ganti cowok. Gosip bahwa dirinya adalah cewek murahan sudah menyebar ke seantero sekolah, sehingga Sky di-bully oleh murid-murid di sekolah itu. Tapi, Sky tidak mempermasalahkan ini. Apalagi ketika dia mendapatkan seorang teman baru yang sama uniknya dengan dirinya, Breckin.

“Ini serius, Sky. Aku melihatmu di kelas hari ini, kentara kau juga murid baru. Setelah melihat uang penghinaan tumpah dari lokermu sebelum mata pelajaran keempat, dan menyaksikan kau tidak bereaksi atas penghinaan itu, aku tahu kita berjodoh. Selain itu, menurutku jika kita bekerja sama, kita bisa mencegah paling sedikit dua remaja bunuh diri sia-sia tahun ini. Jadi, bagaimana pendapatmu? Bersedia menjadi sahabat terbaikku yang paling baik di seluruh penjuru dunia?”—hlm. 36-37.

Selain keterkucilannya dari dunia teknologi, Sky memiliki masalah lain: dia tidak pernah bisa merasa tertarik pada cowok. Setiap kali bermesraan dengan cowok, Sky langsung mati rasa, seseksi apa pun cowok itu. Gara-gara ini, Six bahkan sampai menduga Sky penyuka sesama jenis.

“Sky, empat tahun aku mengkhawatirkanmu, dan berpikir hari ini takkan terjadi. Aku tidak keberatan jika kau penyuka sesama jenis. Aku tidak keberatan jika kau hanya menyukai cowok pendek, kurus, dan aneh. Aku bahkan tidak keberatan jika kau hanya tertarik pada pria tua keriput yang anunya lebih keriput lagi. Tapi aku keberatan jika kau tidak pernah merasa bergairah.” Six berbaring di ranjang, tersenyum. “Terbakar gairah adalah dosa paling besar dari semua dosa.”—hlm. 53.

Lalu, benarkah Sky penyuka sesama jenis? Ternyata tidak, karena ketika suatu hari dia bertemu dengan seorang pemuda aneh berlesung pipit, dia langsung tertarik pada cowok itu. Sky, yang tidak pernah sekali pun tertarik pada cowok, tiba-tiba saja berliur menginginkan cowok yang belakangan dia ketahui bernama Dean Holder.

Semua dalam diri Holder menyebabkan paru-paruku gagal berfungsi dan jantungku bekerja terlalu keras. Aku mendapat firasat jika Holder tersenyum padaku seperti Grayson, celanaku akan teronggok di tanah dalam kecepatan mengagumkan.—hlm. 45.

Sky sangat tertarik pada Holder, tapi dia juga ketakutan, karena menurut Six, Holder bukan cowok baik-baik. Oleh sebab itu, Sky memutuskan untuk menghindari Holder. Namun, cowok itu terus mengejarnya, sehingga pada akhirnya Sky menyerah dan menerima Holder.

Ends happily ever after? Sayangnya tidak. Karena ternyata Holder menyimpan begitu banyak rahasia. Rahasia kelam dan, mungkin, sebaiknya tidak perlu diungkit lagi.

Aku tahu sekarang. Aku tahu ada yang tidak beres dengan Holder. Aku tahu mengapa suasana hatinya berubah-ubah antara bahagia, kesal, pemarah, dan sebagainya. Akhirnya semua masuk akal.—hlm. 218.

🍃🍃🍃

Terus terang saja, aku mengharapkan cerita roman remaja dengan hormon yang meledak-ledak khas novel-novel teenlit ketika mulai membaca novel ini. Ya, aku memang menemukan semua itu, tapi hanya di awal cerita. Perkenalan Sky dan Holder yang tidak biasa, pergulatan batin mereka dalam menghadapi perasaan masing-masing, hingga akhirnya mereka saling mengakui ketertarikan mereka pada masing-masing ternyata hanyalah sebuah permulaan dari jalinan cerita yang sungguh tak terduga dan, bagiku, luar biasa.

CoHo bercerita melalui sudut pandang Sky, sehingga membuat sosok Holder, yang sejak awal semua sikapnya selalu menimbulkan tanda tanya, semakin misterius. Di separuh awal cerita, aku benar-benar dibuat penasaran tentang siapa Holder sebenarnya dan rahasia apa yang dia simpan, sehingga membuatku nggak sabar melanjutkan ke halaman berikutnya lagi dan lagi. Ditambah lagi, judul setiap bab yang berupa hari, tanggal, dan jam, bikin otakku semakin tak terkendali dalam memproduksi berbagai spekulasi liar 🤔

Begitu buku memasuki paruh kedua, rahasia Holder memang mulai tersingkap, tapi tanda tanya justru semakin membesar karena masa lalu Sky mulai disinggung di sini. Semakin jauh cerita berjalan, semakin kelam nuansa kisahnya. Sedikit demi sedikit, kenyataan tentang Sky dan Holder semakin terkuak.

CoHo memang memberikan sejumlah petunjuk di sana-sini mengenai siapa Holder dan bagaimana masa lalu Sky melalui plot yang sesekali mundur. Tapi, tetap saja, aku kaget ternyata ceritanya kayak gitu. I was like, damn, I didn’t see it coming 😨😱

Yang terjadi pada Sky, dan akhirnya juga menimpa Holder, sungguh membuat hatiku tersayat-sayat. Setelah selesai membaca novel ini, aku baper berat 😣😭

Selain ide cerita yang menurutku tidak biasa untuk genre young-adult, aku juga suka sekali sama kelihaian CoHo dalam merangkai kalimat. Yang paling membekas adalah kata live di antara like dan love, serta makna di balik kata hopeless yang menjadi judul novel ini.

“Hidup. Jika kau memotong dan menyambung kata ‘like’, suka, dan ‘love’, cinta, kau akan mendapatkan kata ‘live’, hidup. Kau bisa menggunakan kata itu.”
Holder tertawa lagi, tapi kali ini tawa lega. Ia memelukku dan menciumku penuh kelegaan. “Aku hidup padamu, Sky,” katanya di bibirku. “Aku sangat hidup padamu.”
—hlm. 223.
…Dean tertawa menatap kami berdua, lutut kami berlepotan tanah dan rambut kami penuh sarang laba-laba. Ia menggeleng-geleng, mengulangi kata itu. “Dasar Hopeless.—hlm. 307.

🌿 Karakter

Entah kenapa, Sky mengingatkanku pada tokoh Bella Swan. Cewek yang agak terkucil dari dunia sosial, gemar membaca, cantik dan cerdas. Aku nggak mengeluh, beneran deh. Tapi, buatku, Sky tokoh yang sudah mainstream. Tapi, aku suka dengan keterusterangan Sky terhadap perasaannya sendiri. Dia nggak mencoba mengelak dari rasa sukanya pada Holder. Dan gapteknya itu loh, bikin dia unik dan lucu 😂

“Mm…” Holder kembali menatapku. Ia bermandikan cahaya matahari, membuat keindahannya semakin terlihat jelas. Matanya yang bersinar menatap lurus ke mataku seolah tidak ingin melihat ke tempat lain. “Kau, mm… kau baru saja mengirim SMS padaku yang, dari isinya, aku cukup yakin ingin kaukirim pada Six.”
Astaga, tidak.
Ia menyorongkan wajah untuk memberiku ciuman singkat. “Kau menggemaskan, tahu tidak? Tapi kau harus mempelajari cara memakai ponselmu dengan benar.” Ia mengedip lalu beranjak pergi. Aku merebahkan kepala di sandaran dan dalam hati memaki diri sendiri.
Aku benci teknologi.
—hlm. 263-264.

😂😂😂

Dari blurb-nya, awalnya aku mengira Holder adalah cowok tipe bad-boy yang gayanya slengean. Walaupun sangat mainstream, I always have a soft spot for bad boys. Makanya aku tertarik baca novel ini. Ternyata, Holder jauh dari karakter slengean. Mungkin masih bisa kalau dibilang bad boy. Holder memang keras kepala dan agak emosian, tapi, mengingat semua yang sudah dia alami selama ini, siapa yang bisa menyalahkan? Selain itu, dia tipe cowok penyayang dan setia. Dia sabar banget mendampingi Sky ke sana-kemari.

Aku tertawa dan menghambur ke arahnya, memeluk lehernya. “Kau kekasih paling baik dan penuh pengertian di seluruh penjuru dunia.”
Holder mengembuskan napas dan balas memelukku. “Tidak benar, yang benar aku kekasih paling lelah di seluruh penjuru dunia.”
—hlm. 391.

Six, sahabat baik Sky, sebenarnya bernama lengkap Seven Marie, tapi dia lebih suka dipanggil Six. Sungguh nama yang unik 😄Meski kemunculannya hanya di beberapa bab awal, tapi aku langsung suka sama dia. Dan idenya untuk mengirimi Sky SMS motivasi setiap hari itu manis banget menurutku 😍

“Kuharap kau sadar betapa luar biasanya dirimu, dan siapa tahu kau tidak sadar, aku akan mengirim SMS padamu tiap hari untuk mengingatkanmu. Bersiaplah menerima SMS bertubi-tubi yang menyebalkan selama enam bulan ke depan, yang hanya akan berisi hal-hal positif tentang Sky.”—hlm. 114.

🌿 Ending

Dengan cerita yang begitu kelam, aku lega novel ini ditutup dengan ending yang heart-warming. Klise? Bisa jadi, untuk sebagian orang. Tapi, bagiku ini memuaskan. Aku emang suka di-klise-in #eh 😆

🌿 Alih bahasa dan desain sampul

Aku suka banget sama terjemahannya Hopeless ini. Banyak variasi diksi yang memperkaya kosakataku. Typo-nya pun nyaris nggak ada. Seingatku, aku hanya ketemu dua typo, yaitu penulisan Sky padahal seharusnya Six di halaman 53, dan kata yang seharusnya “di sini” jadi “di dini”, cuman aku lupa di halaman berapa. Mau nyari lagi males 😆😁

Untuk desain sampulnya sendiri aku nggak bisa ngomong banyak. Soalnya aku baca versi e-book-nya sih 😁 Yang jelas, aku suka sama perpaduan antara model yang separuh wajahnya tertutup rambut pirang-cokelat dan warna biru yang mendominasi sampulnya. Judul dan nama pengarangnya ditulis dengan font sederhana, tapi itu justru jadi menarik di mataku. Secara keseluruhan, desain sampulnya ini elegan.

🌿 Overall

Apakah ini karya terbaik CoHo? Aku nggak tau, karena ini buku CoHo pertama yang aku baca. Jadi, aku nggak bisa bandingin. Yang jelas, gara-gara Hopeless ini, mulai sekarang aku akan baca semua buku CoHo, terutama yang sudah diterjemahin ke bahasa Indonesia.

🌿 Rekomendasi?

Bang-gets! Terutama kalo kamu penggemar genre roman, kudu baca yang satu ini. Tapi, pastikan umurmu 18+ ya. Biarpun di negara asalnya novel ini dikategorikan young-adult, tapi di Indonesia lebih cocok masuk kategori dewasa. Ini karena isu yang diangkat dalam novel ini cukup berat. Selain itu, banyaknya adegan xyz membuat novel ini nggak cocok buat remaja di bawah delapan belas tahun 😀

“Aku menyukai langit karena aku tahu, jika aku tersesat, kesepian, atau ketakutan, aku tinggal melihat ke atas dan langit selalu ada, apa pun yang terjadi… dan aku tahu langit akan selalu cantik.”

XOXO,

Gita 😘

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s