[Resensi] Loving the Pain by Rara Ayu

IMG_20170614_094611-01

🌸 Detail Buku

PhotoGrid_1497423512794

🌸 Blurb

PhotoGrid_1497422432785

🌸 Sinopsis

“Cinta itu bukan siapa yang kuat maka dialah yang bertahan. Tapi cinta adalah siapa yang ikhlas maka dialah yang menang.”

Risa Kirana, seorang karyawan berusia 24 tahun, hanya menginginkan kehidupan yang tenang bersama putranya, Kayhan, yang baru berumur 5 tahun. Risa menjalani hidupnya dengan riang dan penuh semangat. Namun, segalanya mulai berubah sejak dia bertemu dengan CEO perusahan tempat dia bekerja.

Javier Cana Gomez adalah seorang pria yang sukses meskipun usianya masih muda, 27 tahun. Dia tampan dan berkuasa sehingga banyak wanita yang menginginkan dirinya. Namun sayang, sepertinya dia tidak tertarik.

Risa dan Javier bertemu secara tak sengaja. Risa ternyata bekerja di perusahaan tempat Javier menjadi CEO-nya. Sejak pertemuan pertama mereka, Javier sudah merasakan ketertarikan yang tak biasa pada Risa. Ketertarikannya semakin meningkat seiring interaksi mereka yang semakin sering, hingga pada akhirnya Javier memutuskan untuk menjadikan Risa miliknya.

Apakah Risa menerima sang pria idaman? Ternyata tidak. Risa tidak membutuhkan pria. Setidaknya, tidak untuk saat ini. Tapi, Javier sangat gigih dalam mengejarnya sehingga sering kali membuat Risa kelimpungan sendiri. Ditambah lagi, Kayhan sangat menyukai si ‘Om Api’ ini. Setelah mempertimbangkan segalanya, Risa akhirnya menerima Javier.

Risa berharap dia bisa memulai hidup baru yang bahagia bersama Javier dan Kayhan. Akan tetapi, sejumlah rahasia masa lalu justru terkuak. Rahasia-rahasia pahit yang mengancam kebahagiaan Risa dan Javier. Kembalinya orang-orang dari masa lalu mereka membuat situasi menjadi semakin sulit, sehingga keadaan tersebut memaksa Risa mengambil keputusan-keputusan yang sulit dan menyakitkan.

🍀🍀🍀

🌸 What I ❤

Aku suka dengan kemampuan penulisnya dalam merangkai kata-kata sehingga menjadi untaian kalimat yang indah. Ide ceritanya pun lumayan bagus. Hanya saja memang masih perlu dipoles lagi agar lebih halus.

🌸 What I 💔

Ada beberapa poin yang menjadi catatanku selama membaca novel ini.

1. Untuk karakter, harus kuakui, mereka gagal membuatku terpesona. Javier bikin aku pengen makan batako saking sebelnya, dan Risa bikin aku pengen garuk-garuk tembok pakai garu saking geregetannya dengan sikap dan keputusannya. Sedangkan untuk tokoh figurannya, sayang sekali, nggak ada yang berkesan buatku.

2. Terlalu banyak konflik dan drama tapi minim emosi. Novel ini tebal, tapi pendalaman emosi setiap tokoh masih kurang. Padahal dengan sekian banyaknya konflik, emosi para tokoh bisa lebih dieksplorasi lagi. Menurutku akan lebih bagus jika konfliknya fokus pada satu atau dua hal namun dieksplorasi secara mendalam sehingga bangunan cerita dan karakternya lebih kuat.

3. Terlalu banyak adegan dewasa, padahal  menurutku adegan-adegan itu nggak ngaruh sama sekali buat jalan cerita. Dua atau tiga adegan ciuman dan adegan ranjang nggak masalah buatku. Tapi, kalau hot scene-nya hanya berjarak 2-3 lembar dari hot scene sebelumnya bagiku itu terlalu berlebihan.

4. Penulis terlalu sering menggunakan kata “entahlah” dan “sudahlah” ketika sedang mendeskripsikan suasana atau alur berpikir sang tokoh sehingga bikin narasinya ngambang. Terus terang, ini cukup disayangkan. Sebab, saat aku lagi serius-seriusnya memahami para karakter, tiba-tiba penjelasan itu berhenti di tengah jalan, yang mana itu bikin aku bingung.

5. Di awal-awal, aku merasa plotnya terlalu cepat berpindah-pindah sehingga bikin aku bingung dan pusing. Untungnya, di pertengahan cerita hal ini membaik.

6. Untuk scene-scene yang sangat penting dan yang mendekati klimaks, penulis justru memilih untuk melewatkannya dan hanya menjelaskannya melalui dialog para tokoh. Ini sangat disayangkan, sebab jika penulis lebih mengeksplorasi bagian-bagian tersebut, menurutku akan menjadi poin lebih yang akan menguatkan cerita dalam novel ini.

7. Untuk segi teknis, mohon maaf, dengan sangat terpaksa harus kukatakan, bahwa penyuntingannya nggak bagus, kalau nggak mau dibilang ancur. Mulai dari typo yang bertebaran hingga tata bahasa dan EYD yang berantakan. Ini benar-benar mengganggu dan memperlambat proses membaca. Sebab, setiap kali aku nemu typo atau tata bahasa yang nggak sesuai, mau nggak mau aku langsung terhenti bacanya sambil mikir.

8. Nggak ada label DEWASA pada novel ini, padahal novel ini jelas untuk 21+. Aku berharap ini menjadi perhatian pihak penerbit. Menurutku label pada novel sangat penting karena ini yang menjadi acuan bagi para pembaca untuk menyeleksi bahan bacaan yang sesuai dengan umur mereka.

🌸 Cover

Pertama kali liat kovernya, entah kenapa aku teringat sama novel-novelnya Marga T. yang terbit tahun ’80-’90an. Kesannya jadul banget 😄 Aku nggak terlalu suka sama desainnya, tapi aku suka sama warna kuningnya yang kalem.

🌸 Overall

In my humble opinion, novel ini memang masih banyak kekurangannya, tapi, bukan berarti aku nggak menghargai karya penulis. Bagaimanapun juga, bukanlah suatu hal yang mudah untuk melahirkan sebuah karya. Namun demikian, sebuah karya perlu melalui berbagai proses dan polesan agar dapat dinikmati oleh para pembaca. Dalam hal ini, peran editor tentu sangat vital. Kritikanku di sini bukan hinaan, melainkan saran yang aku harap dapat membangun ke arah yang positif. Semoga ke depannya nanti, penulis mampu melahirkan karya yang lebih baik lagi. SEMANGAT! 💪💪💪

🌸 Final verdict

PhotoGrid_1497424089223

🌸 Rekomendasi

Aku merekomendasikan novel ini buat kamu yang suka dengan cerita roman dengan bumbu drama keluarga yang kental.

 

Xoxo,

Gita 😘

[Resensi] Blog Tour + Giveaway: Majo and Sady Vol. 1 by Jung Chul Yeon

PhotoGrid_1494819656775

Annyeong, everyone 😊😊😊

Kali ini aku kembali dipercaya oleh Penerbit Haru untuk menjadi host Blog Tour + Giveaway Majo and Sady Vol. 1 (thank you, Ayam Haru 😚😚😚). Sudah pernah baca komik ini? Belum? Kalo gitu, baca dulu resensi dariku ya. Ssst… Bakalan ada giveaway-nya juga loh. So, stay tune 😉

🎀 Detail buku

PhotoGrid_1494818027807

🎀 Blurb

PhotoGrid_1494820138578

🎀 Sinopsis & ulasan

Majo and Sady adalah serial webtoon yang terkenal banget di negara asalnya sana, Korea Selatan. Komik ini bercerita tentang keseharian seorang bapak pengurus rumah tangga dan istrinya yang seorang pegawai kantoran. Sang bapak pengurus rumah tangga divisualisasikan sebagai seekor beruang cokelat gemuk bernama Majo, sedangkan istrinya kelinci putih bernama Sady. Mirip Brown dan Cony di LINE ya 😄

Majo sebenarnya bukan pengangguran, melainkan seorang komikus yang bekerja dari rumah. Karena waktunya lebih banyak dihabiskan di rumah, maka dia memutuskan untuk mengerjakan sendiri pekerjaan rumah.

Banyak kejadian lucu dalam keseharian Majo sebagai bapak pengurus rumah tangga dan kehidupan pernikahannya dengan Sady. Tak jarang, komik ini juga menampilkan perdebatan-perdebatan kecil yang memang biasa dialami oleh para pasutri pada umumnya, seperti membeli barang apa, masalah toilet, menu makan malam, dan sebagainya. Salah satu yang paling lucu sekaligus realistis banget itu menurutku adalah cerita tentang penyakit konsumtif mereka. Majo yang suka sekali membeli gawai dan Sady yang sangat gemar berbelanja fashion dan kosmetik. Namun, ketika diingatkan pada isi rekening, mereka dengan sendirinya menahan diri (walaupun sambil menangis pilu) dan akhirnya batal membeli barang-barang kesukaan mereka itu. Rupanya, bukan aku dan suamiku saja yang mengalami hal ini. Pasutri di Korsel pun mengalaminya 😂😂😂

Hal menyenangkan lainnya dalam komik ini yaitu adanya potongan adegan dari salah satu komik favoritku sepanjang masa, Slam Dunk. Potongan adegan itu diambil dari jilid 15 dan 31. Ini kejutan yang menyenangkan buatku. Kayaknya si penulis baca komik Slam Dunk juga kayak aku 😂😂😂

Setelah beberapa bab cerita, aku sadar bahwa komik ini dibuat berdasarkan kehidupan pribadi si penulis. Hal ini terlihat dari beberapa sisipan foto yang digunakan sebagai setting cerita di komik ini.

Majo and Sady Vol. 1 dibuat dalam bentuk komik 4 strip dan dicetak dalam full colour. Makanya, jangan heran harganya agak sedikit ehem 😅😆 Selain itu, tulisannya kecik-kecik sangat laaah, jadi, sangat disarankan untuk membaca komik ini dengan penerangan yang cukup.

🎀 Karakter

Kabarnya, nama Majo diambil dari kata masochist, dan Sady dari kata sadist. Penamaan ini sesuai banget sama karakter para tokohnya: Majo yang penurut sama istri, dan Sady yang blak-blakan dan galak sama Majo namun sebetulnya sangat perhatian dan menyayangi suaminya itu.

🎀 Ending

Karena ini komik yang menceritakan keseharian penulisnya, jadi tidak ada ending pada komik ini.

🎀 Alih bahasa & desain sampul

Secara keseluruhan, tidak ada masalah dengan penerjemahannya. Aku bisa memahami jalan cerita tanpa kesulitan yang berarti. Kalaupun ada yang terasa aneh, paling cuma beberapa lelucon yang masih terasa Korsel banget, alias sulit dipahami orang Indonesia, sehingga yang harusnya lucu jadi garing banget. Mungkin karena perbedaan kultur kita kali ya. Jadi, bagi mereka lucu, buat kita malah 😶😑🤔

Desain sampul cukup baik. Dengan warna kuning gonjreng ditambah dengan gambar Majo dan Sady di sampulnya, komik ini eye-catchy banget.

🎀 Overall

Karakter Majo dan Sady yang kocak sering kali membuatku ngakak sendiri. Komik ini sangat menghibur dan membuatku mampu untuk sejenak melupakan beratnya kenyataan hidup antrian panjang novel-novel fantasi di daftar TBR-ku 😆😆😂

🎀 Final verdict

PhotoGrid_1494818597346

🎀 Rekomendasi

Karena komik ini bercerita tentang kehidupan rumah tangga, aku lebih merekomendasikan ini untuk pembaca dewasa. Tapi, pembaca remaja pun dapat menikmati komik ini, sebab kontennya masih cukup aman. Namun, yang perlu jadi perhatian ekstra adalah adanya beberapa scene Majo dan Sady minum minuman beralkohol, walaupun nggak banyak dan nggak graphic banget juga.

🎀🎀🎀

Nah, sekarang saatnya kita ber-giveaway riaaa 😆 Siapa yang sudah nungguuu?

Akan ada dua eksemplar komik Majo and Sady di final giveaway di FP Penerbit Haru nanti. Nah, selama menunggu giveaway utama nanti, ikutan mini giveaway-nya dulu ya. Berhadiah satu buah notes Majo and Sady untuk kamu yang beruntung.

Sebelum ikutan giveaway, cek rules-nya dulu ya.

1. Beralamat di Indonesia

2. Like fanspage Penerbit Haru

3. Follow akun Instagram  @gitaputeri.y dan @penerbitharu, serta Twitter @gitaputeri_y dan @penerbitharu

4. Follow blog ini melalui WordPress atau email.

5. Share artikel ini di media sosial kamu. Bebas di media sosial mana saja.

a. Jika di Twitter, mention aku dan cantumkan hashtag #BlogTourMajoSady1and2.

b. Jika di Instagram, repost foto seperti foto yang paling atas di artikel ini yang sudah aku unggah di akun Instagram-ku dan cantumkan hashtag #BlogTourMajoSady1and2.

6. Tulis data diri kalian di kolom komentar di bawah ini:

Nama:

Nama akun FB:

Asal:

Link share/repost:

7. Kumpulkan kepingan puzzle dari setiap host blog tour. Kepingan dariku sebagai berikut.

Gita Puteri Y

8. Satukan semua kepingan tersebut dan tuliskan jawabannya di FP Penerbit Haru SETELAH seluruh rangkaian blog tour ini berakhir. Jadi, jawabnya bukan di sini dan nggak sekarang ya 😉

9. Pemenang notes Majo and Sady akan ditentukan dengan cara diundi dengan pertimbangan sudah mengikuti semua rules dengan benar.

10. Mini giveaway ini berlangsung hingga 20 Mei 2017 pukul 23.59 WIB dan akan aku umumkan secepat mungkin.

Nah, gampang, kan? Atau masih ada pertanyaan? Silakan tulis di kolom komentar atau DM ke IG atau Twitter-ku ya 😘

Berikut jadwal blog tour Majo and Sady Vol. 1 and 2.

Blogtour Majo banner

Xoxo,

Gita 😚😘

[Resensi] Blog Tour + Giveaway: I Want to Eat Your Pancreas by Sumino Yoru

Resensi Pancreas-682x512

🎀 Detail Buku:

Pancreas Blurb-512x631

🎀 Blurb

Pancreas Blurb

🎀 Sinopsis

“…Makanya, aku mau makan pankreasmu.” -hlm. 9.

Yamauchi Sakura divonis menderita penyakit pankreas dan usianya dinyatakan hanya tinggal beberapa tahun saja. Tidak ada seorang pun yang tahu tentang penyakitnya ini kecuali keluarganya, dan seorang teman sekelasnya yang pendiam dan cuek.

Si Aku tidak sengaja menemukan buku harian milik Sakura. Dia tidak menyangka gadis yang begitu ceria dan banyak tertawa itu menderita penyakit yang mematikan. Tapi, karena itu bukan urusannya, jadi dia cuek saja. Apalagi dia juga sudah berjanji pada Sakura untuk merahasiakan masalah penyakitnya itu dari teman-teman mereka. Maka dari itu, dia akan bersikap cuek seperti biasa.

“Eh! Hanya itu? Apa tidak ada hal lain yang ingin kau sampaikan?” Dia meninggikan suara layaknya seseorang yang tidak puas.

“… Yaah, memangnya apa yang bisa kukatakan kalau ada teman sekelas yang berkata bahwa sebentar lagi dia akan mati?”

“Hm, kalau aku, mungkin akan kehilangan kata-kata.”

“Betul. Jadi, paling tidak hargai aku yang tidak hanya diam saja.”

Gadis itu terkekeh sambil berkata, “Benar juga, ya.” -hlm. 24.

Ternyata, Sakura tidak membiarkannya bersikap cuek. Sejak pertemuan mereka yang tidak disengaja itu, dia selalu mendekati si Aku. Dia menyeret si Aku ke sana kemari untuk menemaninya. Setiap kali si Aku protes, Sakura akan mengeluarkan jurus mautnya: dia ingin melakukan banyak hal sebelum mati. Maka runtuhlah pertahanan si Aku. Tapi, walaupun sering ogah-ogahan, pada akhirnya si Aku menikmati diseret ke sana kemari oleh gadis itu.

“Akhirnya sampai! Wah! Bau ramen!”

“Bukannya itu hanya perasaanmu saja, ya?”

“Memang tercium, kok. Hidungmu rusak, ya?”

“Aku bersyukur karena yang rusak bukannya bagian otak, sama sepertimu.”

“Yang rusak pankreasku, lho.”

“Jurus maut itu, curang. Jadi mulai saat ini dilarang. Tidak adil.” -hlm. 94.

Kedekatan mereka lantas menarik perhatian teman-teman sekelas si Aku dan Sakura. Mereka merasa heran karena sifat si Aku dan Sakura sangat berlawanan. Si Aku bahkan sempat menerima perlakuan yang tidak menyenangkan gara-gara kedekatan mereka itu.

“Sa… Sakura… teman yang kau ajak itu… -kun?” -hlm. 69.

Meskipun banyak orang yang keheranan, nyatanya persahabatan si Aku dan Sakura semakin erat dari hari ke hari. Dan lambat laun, si Aku yang antisosial mulai membuka diri pada lingkungannya.

🎀 Ulasan

Cerita dibuka dengan narasi oleh si tokoh utama. Si Aku menceritakan peristiwa sedih yang terjadi pada hari itu. Tidak ada nuansa sedih atau menyayat hati. Hanya muram. Dan datar. Narasi ini benar-benar menggambarkan kepribadian si Aku yang pendiam dan jarang bergaul.

Kemudian narasi mundur ke saat awal terjalinnya pertemanan antara Sakura dan si Aku yang sifatnya bagaikan langit dan bumi. Pertemanan yang terjalin tanpa sengaja itu lama-kelamaan berubah menjadi ikatan persahabatan yang erat.

Cerita yang berpusat sepenuhnya pada interaksi si Aku dan Sakura ini menarik. Aku suka dengan dialog mereka yang kocak tapi sering kali memiliki makna yang sangat dalam. Topik pembicaraan mereka sering kali menyinggung tentang kematian dan sisa umur Sakura yang hanya beberapa tahun saja, tapi, entah bagaimana nuansanya jauh dari muram atau berat. Sebaliknya, baik dialog Sakura maupun narasi si Aku sering kali membuatku tertawa sambil memikirkan kembali makna kehidupan.

“Oh begitu, sayang sekali. Aku jadi tidak bisa memberikan pankreasku kepadamu.”

“Kau tidak perlu memberikannya kepadaku.”

“Kau tidak ingin memakannya?”

“Bukannya kau akan mati gara-gara pankreasmu itu? Pasti serpihan jiwamu akan banyak yang tertinggal di sana. Jiwamu itu gaduh sekali.”

“Betul juga.” Kemudian dia pun tertawa riang, “Uwahahaha.” -hlm. 33.

Novel ini memang predictable. Tidak ada twist yang membuatku melongo saking nggak terduganya atau ngasih hangover whatsoever. Tapi, itu bisa dipahami karena novel ini memang bukan jenis novel yang membuat pembacanya harus berpikir keras atau lelah emosi jiwa raga karena naik-turunnya plot. Ini novel yang manis, menghibur, dan yang paling penting, memberikan banyak pelajaran yang berharga.

Aku salut dengan Sumino-sensei. Dia berhasil mengemas tema cerita yang sebenarnya berat dan suram menjadi ringan dan ceria. Tokoh-tokohnya yang sejujurnya sudah mainstream, tetap menarik hati. Dan kepiawaiannya dalam menuliskan narasi dan dialog yang lucu, cerdas, sekaligus penuh makna patut diacungi jempol.

“Aku juga pasti akan mati suatu saat nanti, seperti dirinya yang akan mati dalam waktu dekat. Tidak tahu kapan, tapi kematian adalah sebuah masa depan yang sudah pasti. Bahkan mungkin saja aku mati sebelum dia.” -hlm. 16.

🎀 Karakter

Sakura digambarkan sebagai gadis yang sangat ceria dan populer di antara teman-temannya, sedangkan si Aku digambarkan suka baca novel, pendiam, cuek, dan agak antisosial. Kalo kamu suka baca shoujo manga, pasti sering deh ketemu sama karakter-karakter seperti ini. Uniknya, nama si Aku yang merupakan tokoh utama tidak disebutkan hingga di penghujung cerita. Sebagai gantinya, Sakura dan teman-teman sekelas mereka memanggil si Aku dengan beberapa julukan. Sakura memanggil si Aku dengan beberapa sebutan unik. Contohnya, Teman Sekelas yang Tahu Rahasiaku-kun, Teman Sekelas yang Akrab Denganku-kun, Teman Sekelas yang Kejam-kun.

Awalnya memang agak aneh, tapi setelah aku masuk lebih jauh ke dalam cerita, tidak disebutkannya nama si Aku justru menguatkan karakternya yang tidak suka bergaul sehingga teman-teman sekelasnya otomatis tidak terlalu menganggap keberadaannya.

🎀 Ending

Akhir novel ini memang bukan jenis and-they-live-happily-ever-after, tapi bagiku tetap memuaskan dan heart-warming. Seperti yang si Aku bilang: bahagia, tapi juga sedih yang berharga.

“Karena sampai saat ini, aku tidak tahu kebahagiaan seperti ini, juga rasa pahit yang seperti ini.” -hlm. 278.

🎀 Alih Bahasa dan Desain Sampul

Penerjemahannya bagus. Nyaris tidak ada typo. Adanya catatan kaki untuk menjelaskan istilah-istilah dalam bahasa Jepang juga sangat membantuku dalam memahami cerita.

Untuk desain sampul, aku nggak pernah kecewa sama Penerbit Haru. Selalu cantik dan instagrammable. Bookmark-nya pun cantik. Bravo buat para desainer Haru 😘

🎀 Overall

Cerita-cerita drama dari Negeri Sakura tak pernah gagal membuatku berdecak kagum. Walaupun ceritanya dikemas dengan ringan, selalu ada saja pelajaran moral yang bisa diambil. Aku jadi nggak sabar kepengin nonton filmnya.

Aku rekomendasikan novel ini buat kamu yang suka atau lagi kepengin baca cerita drama remaja dan kehidupan sekolah dengan tema cerita yang tidak melulu tentang percintaan remaja.

“Kalau ada hal yang bisa kusyukuri karena berhadapan dengan kematian… adalah hal itu. Setiap hari, aku menjalani hidup sambil berpikir bahwa aku hidup.” -hlm. 64.

Pancreas Final Verdict 2

🎀🎀🎀

Terima kasih banyak untuk Penerbit Haru yang sudah ngasih kepercayaan padaku buat jadi host blog tour novel I Want to Eat Your Pancreas yang manis ini. Semoga kita bisa bekerja sama kembali di lain waktu.

Buat teman-teman host blog tour I Want to Eat Your Pancreas, SEMANGAT!!! 😘😚💪

🎀🎀🎀

Nah, sekarang saatnya kita ber-giveaway ria 😆 Siapa yang sudah nunggu?

Akan ada satu eksemplar novel I Want to Eat Your Pancreas di final giveaway di FP Penerbit Haru. Sebelum ikutan giveaway, cek rules-nya dulu ya.

1. Beralamat di Indonesia

2. Like fanspage Penerbit Haru

3. Follow akun Instagram  @gitaputeri.y dan @penerbitharu, dan Twitter @gitaputeri_y dan @penerbitharu

4. Follow blog ini melalui WordPress atau email.

5. Share artikel ini di medsos kamu. Bebas di medsos mana saja.

a. Jika di Twitter, mention aku dan cantumkan hashtag #BlogTourPancreas

b. Jika di Instagram, repost foto seperti foto yang paling atas di artikel ini yang sudah aku unggah di akun Instagram-ku, lalu tinggal ikuti syarat-syarat di caption-nya.

6. Tulis data diri kalian di kolom komentar di bawah ini:

Nama:

Nama akun:

Asal:

Link share/repost:

7. Jawab semua pertanyaan dari setiap host blog tour. Pertanyaanku sebagai berikut.

“Berapa nama panggilan Sakura untuk si Aku dalam postingan ini?”

Tulis jawabannya di FP Penerbit Haru setelah seluruh rangkaian blog tour ini berakhir. Jadi, jawabnya bukan di sini dan nggak sekarang ya 😉

Nah, gampang, kan? Atau masih ada pertanyaan? Silakan tulis di kolom komentar atau DM ke IG atau Twitter-ku ya 😘

Berikut jadwal blog tour I Want to Eat Your Pancreas.

Blogtour Pancreas

Rak Novel Gita (kamu di sini)

Resensi Buku

Fabizdihar’s Blog

Blue Hood

Widy Bookie

See you next time,

Gita 😘

[Resensi] Hopeless by Colleen Hoover

“Langit selalu cantik. Meskipun cuaca gelap, hari hujan, atau berawan, langit tetap cantik dipandang.”

PhotoGrid_1489128322490

Judul terjemahan: Tanpa Daya
Seri: Hopeless #1
Genre: young-adult, romance
Alih Bahasa: Shandy Tan
Editor: Intari Dyah Pramudita
Desain sampul: Marcel A.W.
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Terbit: 2015
Jumlah halaman: 496
ISBN: 978-602-03-1201-9
Sumber: Pinjam di iJak
💝: 5/5

🌿 Blurb

Terkadang mengetahui kebenaran lebih membuat putus asa ketimbang meyakini kebohongan…
Itu yang Sky sadari begitu ia bertemu Dean Holder. Dikenal gara-gara reputasi buruknya di sekolah, hanya Holder yang sanggup membuat jantung Sky berdebar-debar. Membuat gadis tujuh belas tahun itu takut sekaligus terpesona pada sikapnya yang tak mudah ditebak. Tapi Holder sumber masalah. Apalagi sejak cowok itu hadir, kenangan lama yang lebih baik terpendam kembali menghantui.
Masalahnya, Holder terus mendekat. Memaksa ingin mengenal Sky lebih jauh. Sky pun akhirnya menyerah. Menyambut cowok itu memasuki hidupnya. Hanya untuk mengetahui kebenaran, bahwa Holder tidak seperti yang dia katakan. Bahwa ada rahasia yang dia sembunyikan. Dan ketika rahasia itu tersingkap, hidup Sky tak pernah sama lagi.

🍃🍃🍃

Linden Sky Davis adalah seorang remaja yang unik dan langka. Bagaimana tidak, di usianya yang sudah tujuh belas tahun, dia tidak punya akun Facebook. Dia bahkan tidak punya TV, ponsel, apalagi e-mail. Hal ini terjadi lantaran ibunya, Karen, sangat antiteknologi. Menurut Karen, teknologi adalah sumber kejahatan.

Sky juga tidak pernah sekolah di sekolah umum. Dia menjalani pendidikan homeschooling nyaris seumur hidupnya. Ini membuat Sky praktis terkucil dari dunia luar dan tidak punya teman, kecuali Six yang merupakan satu-satunya sahabat sekaligus tetangganya. Dan karena Six-lah, Sky memutuskan untuk masuk ke sekolah umum yang sama dengan Six.

Setelah berbulan-bulan membujuk Karen, Sky akhirnya diizinkan untuk masuk sekolah umum. Sayangnya, tidak berapa lama kemudian, Six mengumumkan bahwa dia akan mengikuti program pertukaran pelajar ke Italia selama enam bulan. Jadilah Sky terpaksa menjalani hari-hari pertamanya di sekolah umum yang asing seorang diri.

Bersahabat dengan Six membuat Sky harus menanggung konsekuensi dicap sebagai cewek jalang. Itu karena Six punya reputasi sebagai cewek yang sering gonta-ganti cowok. Gosip bahwa dirinya adalah cewek murahan sudah menyebar ke seantero sekolah, sehingga Sky di-bully oleh murid-murid di sekolah itu. Tapi, Sky tidak mempermasalahkan ini. Apalagi ketika dia mendapatkan seorang teman baru yang sama uniknya dengan dirinya, Breckin.

“Ini serius, Sky. Aku melihatmu di kelas hari ini, kentara kau juga murid baru. Setelah melihat uang penghinaan tumpah dari lokermu sebelum mata pelajaran keempat, dan menyaksikan kau tidak bereaksi atas penghinaan itu, aku tahu kita berjodoh. Selain itu, menurutku jika kita bekerja sama, kita bisa mencegah paling sedikit dua remaja bunuh diri sia-sia tahun ini. Jadi, bagaimana pendapatmu? Bersedia menjadi sahabat terbaikku yang paling baik di seluruh penjuru dunia?”—hlm. 36-37.

Selain keterkucilannya dari dunia teknologi, Sky memiliki masalah lain: dia tidak pernah bisa merasa tertarik pada cowok. Setiap kali bermesraan dengan cowok, Sky langsung mati rasa, seseksi apa pun cowok itu. Gara-gara ini, Six bahkan sampai menduga Sky penyuka sesama jenis.

“Sky, empat tahun aku mengkhawatirkanmu, dan berpikir hari ini takkan terjadi. Aku tidak keberatan jika kau penyuka sesama jenis. Aku tidak keberatan jika kau hanya menyukai cowok pendek, kurus, dan aneh. Aku bahkan tidak keberatan jika kau hanya tertarik pada pria tua keriput yang anunya lebih keriput lagi. Tapi aku keberatan jika kau tidak pernah merasa bergairah.” Six berbaring di ranjang, tersenyum. “Terbakar gairah adalah dosa paling besar dari semua dosa.”—hlm. 53.

Lalu, benarkah Sky penyuka sesama jenis? Ternyata tidak, karena ketika suatu hari dia bertemu dengan seorang pemuda aneh berlesung pipit, dia langsung tertarik pada cowok itu. Sky, yang tidak pernah sekali pun tertarik pada cowok, tiba-tiba saja berliur menginginkan cowok yang belakangan dia ketahui bernama Dean Holder.

Semua dalam diri Holder menyebabkan paru-paruku gagal berfungsi dan jantungku bekerja terlalu keras. Aku mendapat firasat jika Holder tersenyum padaku seperti Grayson, celanaku akan teronggok di tanah dalam kecepatan mengagumkan.—hlm. 45.

Sky sangat tertarik pada Holder, tapi dia juga ketakutan, karena menurut Six, Holder bukan cowok baik-baik. Oleh sebab itu, Sky memutuskan untuk menghindari Holder. Namun, cowok itu terus mengejarnya, sehingga pada akhirnya Sky menyerah dan menerima Holder.

Ends happily ever after? Sayangnya tidak. Karena ternyata Holder menyimpan begitu banyak rahasia. Rahasia kelam dan, mungkin, sebaiknya tidak perlu diungkit lagi.

Aku tahu sekarang. Aku tahu ada yang tidak beres dengan Holder. Aku tahu mengapa suasana hatinya berubah-ubah antara bahagia, kesal, pemarah, dan sebagainya. Akhirnya semua masuk akal.—hlm. 218.

🍃🍃🍃

Terus terang saja, aku mengharapkan cerita roman remaja dengan hormon yang meledak-ledak khas novel-novel teenlit ketika mulai membaca novel ini. Ya, aku memang menemukan semua itu, tapi hanya di awal cerita. Perkenalan Sky dan Holder yang tidak biasa, pergulatan batin mereka dalam menghadapi perasaan masing-masing, hingga akhirnya mereka saling mengakui ketertarikan mereka pada masing-masing ternyata hanyalah sebuah permulaan dari jalinan cerita yang sungguh tak terduga dan, bagiku, luar biasa.

CoHo bercerita melalui sudut pandang Sky, sehingga membuat sosok Holder, yang sejak awal semua sikapnya selalu menimbulkan tanda tanya, semakin misterius. Di separuh awal cerita, aku benar-benar dibuat penasaran tentang siapa Holder sebenarnya dan rahasia apa yang dia simpan, sehingga membuatku nggak sabar melanjutkan ke halaman berikutnya lagi dan lagi. Ditambah lagi, judul setiap bab yang berupa hari, tanggal, dan jam, bikin otakku semakin tak terkendali dalam memproduksi berbagai spekulasi liar 🤔

Begitu buku memasuki paruh kedua, rahasia Holder memang mulai tersingkap, tapi tanda tanya justru semakin membesar karena masa lalu Sky mulai disinggung di sini. Semakin jauh cerita berjalan, semakin kelam nuansa kisahnya. Sedikit demi sedikit, kenyataan tentang Sky dan Holder semakin terkuak.

CoHo memang memberikan sejumlah petunjuk di sana-sini mengenai siapa Holder dan bagaimana masa lalu Sky melalui plot yang sesekali mundur. Tapi, tetap saja, aku kaget ternyata ceritanya kayak gitu. I was like, damn, I didn’t see it coming 😨😱

Yang terjadi pada Sky, dan akhirnya juga menimpa Holder, sungguh membuat hatiku tersayat-sayat. Setelah selesai membaca novel ini, aku baper berat 😣😭

Selain ide cerita yang menurutku tidak biasa untuk genre young-adult, aku juga suka sekali sama kelihaian CoHo dalam merangkai kalimat. Yang paling membekas adalah kata live di antara like dan love, serta makna di balik kata hopeless yang menjadi judul novel ini.

“Hidup. Jika kau memotong dan menyambung kata ‘like’, suka, dan ‘love’, cinta, kau akan mendapatkan kata ‘live’, hidup. Kau bisa menggunakan kata itu.”
Holder tertawa lagi, tapi kali ini tawa lega. Ia memelukku dan menciumku penuh kelegaan. “Aku hidup padamu, Sky,” katanya di bibirku. “Aku sangat hidup padamu.”
—hlm. 223.
…Dean tertawa menatap kami berdua, lutut kami berlepotan tanah dan rambut kami penuh sarang laba-laba. Ia menggeleng-geleng, mengulangi kata itu. “Dasar Hopeless.—hlm. 307.

🌿 Karakter

Entah kenapa, Sky mengingatkanku pada tokoh Bella Swan. Cewek yang agak terkucil dari dunia sosial, gemar membaca, cantik dan cerdas. Aku nggak mengeluh, beneran deh. Tapi, buatku, Sky tokoh yang sudah mainstream. Tapi, aku suka dengan keterusterangan Sky terhadap perasaannya sendiri. Dia nggak mencoba mengelak dari rasa sukanya pada Holder. Dan gapteknya itu loh, bikin dia unik dan lucu 😂

“Mm…” Holder kembali menatapku. Ia bermandikan cahaya matahari, membuat keindahannya semakin terlihat jelas. Matanya yang bersinar menatap lurus ke mataku seolah tidak ingin melihat ke tempat lain. “Kau, mm… kau baru saja mengirim SMS padaku yang, dari isinya, aku cukup yakin ingin kaukirim pada Six.”
Astaga, tidak.
Ia menyorongkan wajah untuk memberiku ciuman singkat. “Kau menggemaskan, tahu tidak? Tapi kau harus mempelajari cara memakai ponselmu dengan benar.” Ia mengedip lalu beranjak pergi. Aku merebahkan kepala di sandaran dan dalam hati memaki diri sendiri.
Aku benci teknologi.
—hlm. 263-264.

😂😂😂

Dari blurb-nya, awalnya aku mengira Holder adalah cowok tipe bad-boy yang gayanya slengean. Walaupun sangat mainstream, I always have a soft spot for bad boys. Makanya aku tertarik baca novel ini. Ternyata, Holder jauh dari karakter slengean. Mungkin masih bisa kalau dibilang bad boy. Holder memang keras kepala dan agak emosian, tapi, mengingat semua yang sudah dia alami selama ini, siapa yang bisa menyalahkan? Selain itu, dia tipe cowok penyayang dan setia. Dia sabar banget mendampingi Sky ke sana-kemari.

Aku tertawa dan menghambur ke arahnya, memeluk lehernya. “Kau kekasih paling baik dan penuh pengertian di seluruh penjuru dunia.”
Holder mengembuskan napas dan balas memelukku. “Tidak benar, yang benar aku kekasih paling lelah di seluruh penjuru dunia.”
—hlm. 391.

Six, sahabat baik Sky, sebenarnya bernama lengkap Seven Marie, tapi dia lebih suka dipanggil Six. Sungguh nama yang unik 😄Meski kemunculannya hanya di beberapa bab awal, tapi aku langsung suka sama dia. Dan idenya untuk mengirimi Sky SMS motivasi setiap hari itu manis banget menurutku 😍

“Kuharap kau sadar betapa luar biasanya dirimu, dan siapa tahu kau tidak sadar, aku akan mengirim SMS padamu tiap hari untuk mengingatkanmu. Bersiaplah menerima SMS bertubi-tubi yang menyebalkan selama enam bulan ke depan, yang hanya akan berisi hal-hal positif tentang Sky.”—hlm. 114.

🌿 Ending

Dengan cerita yang begitu kelam, aku lega novel ini ditutup dengan ending yang heart-warming. Klise? Bisa jadi, untuk sebagian orang. Tapi, bagiku ini memuaskan. Aku emang suka di-klise-in #eh 😆

🌿 Alih bahasa dan desain sampul

Aku suka banget sama terjemahannya Hopeless ini. Banyak variasi diksi yang memperkaya kosakataku. Typo-nya pun nyaris nggak ada. Seingatku, aku hanya ketemu dua typo, yaitu penulisan Sky padahal seharusnya Six di halaman 53, dan kata yang seharusnya “di sini” jadi “di dini”, cuman aku lupa di halaman berapa. Mau nyari lagi males 😆😁

Untuk desain sampulnya sendiri aku nggak bisa ngomong banyak. Soalnya aku baca versi e-book-nya sih 😁 Yang jelas, aku suka sama perpaduan antara model yang separuh wajahnya tertutup rambut pirang-cokelat dan warna biru yang mendominasi sampulnya. Judul dan nama pengarangnya ditulis dengan font sederhana, tapi itu justru jadi menarik di mataku. Secara keseluruhan, desain sampulnya ini elegan.

🌿 Overall

Apakah ini karya terbaik CoHo? Aku nggak tau, karena ini buku CoHo pertama yang aku baca. Jadi, aku nggak bisa bandingin. Yang jelas, gara-gara Hopeless ini, mulai sekarang aku akan baca semua buku CoHo, terutama yang sudah diterjemahin ke bahasa Indonesia.

🌿 Rekomendasi?

Bang-gets! Terutama kalo kamu penggemar genre roman, kudu baca yang satu ini. Tapi, pastikan umurmu 18+ ya. Biarpun di negara asalnya novel ini dikategorikan young-adult, tapi di Indonesia lebih cocok masuk kategori dewasa. Ini karena isu yang diangkat dalam novel ini cukup berat. Selain itu, banyaknya adegan xyz membuat novel ini nggak cocok buat remaja di bawah delapan belas tahun 😀

“Aku menyukai langit karena aku tahu, jika aku tersesat, kesepian, atau ketakutan, aku tinggal melihat ke atas dan langit selalu ada, apa pun yang terjadi… dan aku tahu langit akan selalu cantik.”

XOXO,

Gita 😘

[Resensi] Cinder by Marissa Meyer, Kisah Cinderella di Era Futuristik

“Mereka mengambil gaun-gaunnya yang indah, menyuruhnya memakai baju kerja abu-abu tua, dan memberinya sepatu tua.”

cinder

Detail Buku
Seri: The Lunar Chronicles #1
Genre: young adult, fantasy, dystopian, romance
Penerbit: Spring
Penerjemah: Yudith Listiandri
Penyunting: Selsa Chintya
Proofreader: Titish A.K.
Cetakan I: Januari 2016
Bahasa: Indonesia
Jumlah halaman: 384
ISBN: 978-602-71505-4-6
💝: 4 of 5

🍀 Blurb

Wabah baru tiba-tiba muncul dan mengecam populasi penduduk Bumi yang dipenuhi oleh manusia, cyborg, dan android. Sementara itu, di luar angkasa, orang-orang Bulan mengamati mereka, menunggu waktu yang tepat untuk menyerang.

Cinder, seorang cyborg, adalah mekanik ternama di New Beijing. Gadis itu memiliki masa lalu yang misterius, diangkat anak dan tinggal bersama ibu dan dua orang saudara tirinya. Suatu saat, dia bertemu dengan Pangeran Kai yang tampan. Dia tidak mengira pertemuannya dengan sang Pangeran akan membawanya terjebak dalam perseteruan antara Bumi dan Bulan. Dapatkah Cinder menyelamatkan sang Pangeran dan Bumi?

🍂🍂🍂

Linh Cinder terkenal sebagai seorang mekanik terbaik di New Beijing. Dia mampu memperbaiki barang elektronik apa pun. Namun, ada satu “keistimewaan”-nya yang tidak dimiliki oleh orang lain: dia seorang cyborg. Cyborg adalah cybernatic organism, yaitu makhluk hidup yang memiliki bagian-bagian tubuh robot.

Suatu hari, seorang pemuda mendatangi stan kecil Cinder di pasar dan memintanya untuk memperbaiki android tua pemuda tersebut. Betapa terkejutnya dia saat mengenali pemuda itu sebagai Pangeran Kai, pewaris takhta kekaisaran Persemakmuran Timur. Memandang pemuda itu dari jarak dekat membuat Cinder sadar bahwa dia tidak imun terhadap pesona sang Pangeran seperti yang selama ini dia yakini.

“…Meskipun Pangeran Kai sudah lama menjadi salah satu topik favorit Peony—gadis itu mungkin sudah menjadi anggota semua grup fan Pangeran di Internet—Cinder tidak pernah membayangkan bahwa dia juga akan merasakan kekaguman yang sama.” —hlm. 43.

Sementara itu, wabah letumosis semakin ganas. Wabah ini telah merenggut ratusan ribu jiwa di seluruh dunia sejak pertama kali ditemukan dua belas tahun yang lalu. Pangeran Kai berusaha sekuat tenaga untuk menemukan vaksin demi mengatasi wabah yang telah membunuh kedua orang tuanya itu, salah satunya dengan cara melanjutkan regulasi cyborg. Regulasi ini mewajibkan para cyborg di Persemakmuran Timur yang terpilih dengan cara diundi untuk menjadi kelinci percobaan dalam pengujian vaksin, dan berkat ibu tirinya, Cinder terpaksa menerima nasib untuk menjadi kelinci percobaan tersebut.

Cinder pun akhirnya dibawa ke fasilitas penelitian vaksin letumosis. Walaupun murka luar biasa, dia sudah pasrah, yakin bahwa dirinya tidak akan pernah keluar dari tempat itu hidup-hidup. Namun, ternyata Cinder berhasil selamat dari pengujian tersebut dan, bersamaan dengan itu, masa lalunya yang penuh misteri pun mulai terungkap.

🍂🍂🍂

Jujur saja, awalnya aku nggak begitu antusias sama serial ini karena ceritanya berdasarkan fairytale yang menurutku sudah mainstream banget. I was like, Cinderella? Seriously? Tapi, lama-lama aku penasaran juga, soalnya banyak review positif mengenai serial ini. Ditambah lagi, promosi dari penerbitnya yang jor-joran banget, bikin aku akhirnya tergoda juga. Inilah masalahnya kalau kamu keseringan stalking IG-nya penerbit-penerbit itu. Bikin kamu yang awalnya cool aja akhirnya luluh juga 😥

Aku mulai membaca novel ini tanpa ekspektasi yang tinggi. Because, you know, Cinderella and all. It turned out, I. LOVED. IT. So much. Aku suka banget dengan penokohannya. Cinder sang Mekanik. Karena profesinya itu, dia jadi selalu kotor. Ini pas dengan karakter Cinderella yang memang selalu kotor karena harus membersihkan rumah setiap hari. And a cyborg! That’s a really nice touch, I have to say.

Betewe, aku baru tau loh kalo dongeng Cinderella ini aslinya berasal dari negeri Tiongkok. Pantesan aja latar tempat dalam cerita ini adalah New Beijing. Selain itu, background era ketiga yang futuristik banget menurutku adalah ide yang brilian. Sependek pengetahuanku, selama ini kan cerita-cerita yang terinspirasi dari dongeng Cinderella kebanyakan berlatar zaman dulu atau kontemporer, tapi belum pernah yang berlatar futuristik, apalagi Cinderella-nya seorang cyborg. Jadi ini fresh banget menurutku.

Cerita berjalan sangat lambat. Di bab-bab awal, aku sempat merasa bosan. Aku tidak tahu ceritanya akan mengarah ke mana. Tapi ketertarikanku terpantik kembali saat masa lalu Cinder mulai terkuak. Aku memang sudah menebak siapa Cinder sebenarnya, mengingat novel ini berdasarkan salah satu dongeng paling populer di dunia. Tapi itu tidak lantas membuat akhir cerita jadi mudah ditebak.

Seperti halnya dongeng Cinderella, di dalam cerita ini Cinder juga diundang untuk menghadiri pesta dansa tahunan kerajaan. Di sinilah yang membuatku penasaran. Kalau di cerita aslinya kan Cinderella ditolong oleh ibu peri untuk bisa menghadiri pesta dansa. Lalu, bagaimana dengan Cinder? Apa dia dibantu oleh ibu peri juga? Aku nggak bakal kasih tau. Kalian langsung aja baca bukunya sendiri yaaa. MUAAHAHAHAHA *ketawazahat*

🍀 Karakter

Linh Cinder adalah seorang remaja berusia tujuh belas tahun dengan selera humor sarkastis yang menggelitik. Dia jauh sekali dari imej Cinderella yang sering digambarkan sebagai seorang gadis cantik jelita lemah gemulai berhati malaikat. Alih-alih, Cinder digambarkan sebagai seorang gadis yang luar biasa cerdas dan berbakat, tomboy, agak skeptis, dan, walaupun tidak dijabarkan secara gamblang, Pangeran Kai berpendapat dia adalah gadis yang cantik. Cinder menyimpan kemarahan dan kepahitan dalam dirinya karena perlakuan buruk ibu dan saudara tirinya. Mungkin inilah yang membentuk karakternya menjadi sinis. Meski begitu, Cinder ternyata berhati lembut, karena dia sangat menyayangi adik tirinya, Peony, dan android-nya yang unik, Iko.

Pangeran Kaito bisa dibilang cowok idaman. Tampan, bertubuh tinggi (menurut Iko), baik hati, bijaksana, rela berkorban demi orang lain, dan, tentu saja, seorang PANGERAN! Cewek mana yang nggak suka sama pangeran, coba? XD Aku suka dengan sikapnya yang selalu optimis walaupun dihimpit oleh beratnya tanggung jawab sebagai penerus takhta kekaisaran dan intimidasi Levana. Dia memang cocok sekali dengan Cinder yang selalu skeptis. Saling melengkapi gitu deh.

Iko adalah tokoh favoritku di buku ini. Karakternya yang ceria sangat menghibur. Iko memang unik, karena dia tidak seperti android kebanyakan. Dia lebih seperti manusia yang punya perasaan daripada robot yang sudah diprogram.

Cinder beringsut. “Bisakah kita tidak bicara tentang Pangeran?”

“Kupikir itu tidak mungkin. Lagi pula, kau kan sedang mengerjakan androidnya. Coba pikirkan hal-hal yang android ini ketahui, hal-hal yang dia lihat, dan…” Suara Iko tergagap. “Apakah kau pikir dia pernah melihat Pangeran tanpa pakaian?”—hlm. 191.

Linh Adri adalah ibu tiri Cinder. Seperti di cerita aslinya, ibu tiri Cinder memang jahat. Perlakuannya terhadap Cinder keterlaluan sekali. Di buku ini karakter Adri memang tidak dielaborasi lebih dalam. Dia hanya digambarkan sebagai ibu tiri yang jahat dan membenci Cinder.

Linh Pearl & Peony adalah saudari tiri Cinder. Pearl tidak suka pada Cinder. Seperti halnya Adri, karakter Pearl tidak digali lebih dalam. Berdasarkan beberapa scene-nya, aku menangkap Pearl adalah gadis yang egois dan suka seenaknya.

Berbeda dengan Pearl, Peony memperlakukan Cinder dengan baik. Itu sebabnya Cinder sangat menyayangi adik tirinya yang manis ini. Aku juga suka sama Peony. Dia seperti remaja kebanyakan yang ngefan berat sama Pangeran Kai. Sayang sekali kita harus berpisah dengannya di buku pertama ini. Such a short journey 😥

🍀 Alih Bahasa & Desain Sampul

Penerjemahannya sangat baik, lancar, dan mudah dimengerti. Karena sang tokoh utama adalah seorang mekanik, maka tentu saja banyak istilah mesin yang muncul. Penyertaan catatan kaki di novel ini sangat membantu dalam memahami istilah-istilah tersebut.

Untuk sampulnya sendiri menurutku unik. Dengan hanya menampilkan sebelah kaki yang mengenakan sepatu, penggambaran Cinderella-nya dapet banget. Dan bookmark-nya! Ya ampun, lucu bangeeet 😣😍Sayangnya, ukuran bookmark-nya ini kekecilan menurutku. Jadinya aku sering kebingungan nyari-nyari karena sering nyempil ke mana-mana gara-gara ukuran mininya itu. Aku emang lebih suka yang big size #eh 😝

photogrid_1486124622417

Imut-imut >_<

🍀 Overall

Meskipun mudah diprediksi, Cinder cukup menyenangkan untuk dibaca. Buku ini cocok untuk pembaca remaja. Aku juga merekomendasikan buku ini untuk para penggemar cerita distopia dengan bumbu fantasi, fairytale, dan romansa manis.

[Resensi] Blogtour + Giveaway: Puzzle of Lies by Kim Eun Jeong

“…Entah apakah orang lain mmenyadari hal ini, tapi aku tetap harus mengenakan setelan bermerek agar tetap terlihat seperti kesatria hebat yang siap terjun ke dalam berbagai kasus, meskipun sebenarnya kesatria itu mengejar materi dan tidak terlalu memperhatikan kebenaran dan keadilan.” -Jo Yun Geon

img_20170115_140701

Detail Buku
Genre: adults, romance
Penerbit: Haru
Penerjemah: Putu Pramania Adnyana
Penyunting: Selsa Chintya
Proofreader: Titish A.K
Terbit: Desember 2016
Bahasa: Indonesia
Jumlah halaman: 580
ISBN: 9 786026 383037

Blurb

Namaku Jo Yun Geon, seorang pengacara.

Beberapa hari yang lalu, Mi Hyang, temanku saat kuliah, tiba-tiba menelepon ke kantor biro hukum tempatku bekerja. Dia adalah seorang hakim dan hubungan kami sedikit rumit.

“Aku ingin kau menjadi wali,” kata Mi Hyang. “Namanya Dan Tae, anak laki-laki, usia sembilan tahun.”

Sialnya, aku tidak bisa menolak saat tiba-tiba anak laki-laki itu datang ke apartemenku dan harus tinggal denganku.

Selesailah sudah kehidupan single-ku yang bebas.

>>><<<

img_20170115_153353_033

“…Memangnya keadilan dan kebenaran itu penting kalau menyangkut harta warisan? Satu-satunya yang penting hanyalah tanda tangan asli dari pemilik harta yang sudah hampir mati itu.” –Jo Yun Geon, hlm. 5.

Jo Yun Geon adalah seorang pengacara spesialis penanganan harta warisan. Suatu hari, dia mendapatkan seorang klien, yaitu seorang pria konglomerat yang sudah tua. Sang konglomerat, Tuan Ho Myeong So, meminta Yun Geon untuk menjadi walinya dan menyatakan bahwa dia tidak mau mewariskan sepeser pun hartanya kepada anak-anaknya. Awalnya, Yun Geon hendak menolak permintaan tersebut, tapi ketika bapak tua itu berjanji untuk memberikan lima persen hartanya kepada Yun Geon sebagai imbalan atas bantuannya, Yun Geon langsung manut. Haha…

Tuan Ho meminta Yun Geon untuk merekam seluruh aktivitasnya setiap hari kalau-kalau ada yang ingin membahayakan nyawanya. Sang konglomerat berkata bahwa dia ingin kematiannya terekam dengan jelas. Permintaan yang aneh sekali, tapi karena Yun Geon sudah terbiasa berhadapan dengan klien-klien yang unik, maka dia menyanggupi permintaan bapak tua itu.

Di saat yang bersamaan, Yun Geon diminta—errr, dipaksa, sebenarnya—oleh teman lamanya, Mi Hyang untuk menjadi wali dari seorang anak laki-laki berusia sembilan tahun yang mengaku telah mengalami pelecehan seksual. Yun Geon terang saja menolak. Dia ini bujangan tulen. Tidak ada tempat untuk anak-anak di dalam rumahnya, dan kehidupannya. Namun dia tidak bisa mengelak lagi ketika anak itu diantarkan langsung ke depan pintu apartemennya. Dengan amat sangat terpaksa, Yun Geon menerima anak itu untuk tinggal bersamanya.

Yun Geon tidak suka anak-anak. Itulah sebabnya dia bersikap dingin pada Dan Tae, nama anak itu. Apalagi, dengan melihat Dan Tae yang tidak memiliki ibu, Yun Geon seakan diingatkan lagi pada dirinya sendiri yang tumbuh besar tanpa kasih sayang orang tua. Ini membuatnya semakin sebal dengan anak itu.

“Tidak menikah sepertinya merupakan keputusan yang baik di kehidupanku ini. Aku merasa bersyukur sekali karena tidak memiliki anak. Seandainya aku memiliki anak, pasti keadaan gawat darurat seperti ini akan lebih sering terjadi daripada jumlah waktu makanku sehari-hari.” –Jo Yun Geon, hlm. 42.

Keadaan ini juga membuatnya harus bertemu lagi dengan para wanita dari masa lalunya, yaitu Hakim Go Mi Hyang dan Jaksa Na In Yeong. Yun Geon betul-betul tidak ingin bertemu dengan mereka lagi. Pertemuan dengan kedua wanita itu sekaligus membawa kembali kenangan cinta pertamanya yang sangat ingin dia lupakan.

“…Mereka itu bagai permen peppermint yang dimuntahkan karena menyangkut di leher. Leher memang terasa sakit, tapi rasa permen itu tetap enak. Rasanya aneh kalau harus memankan kembali permen yang sudah dimuntahkan, bukan berarti aku tidak merasa sayang karena harus membuang permen itu.” –Jo Yun Geon, hlm. 18.

Euwwwww… -_-

Sementara itu, sidang kasus pelecehan seksual yang dialami oleh Dan Tae mulai bergulir. Ada beberapa kejanggalan dalam kasus ini. Yun Geon dan Jaksa Na In Yeong meragukan cerita Dan Tae, tetapi anak itu bersikeras bahwa apa yang dia nyatakan adalah benar. Di sinilah naluri pengacara Yun Geon tergelitik. Dia berusaha menggali kasus itu lebih dalam untuk mendapatkan kebenaran. Ada apa sebenarnya di balik kasus ini? Apakah Dan Tae benar-benar mengalami pelecehan seksual? Ataukah dia berbohong? Kalau memang dia berbohong, apa motifnya?

>>><<<

img_20170117_111327_697

Ini buku serba pertama buatku. Buku pertamaku di tahun 2017, karya Kim Eun Jeong sekaligus buku Penerbit Haru pertama yang aku baca ^_^

Sejak pertama baca blurb­-nya aku memang sudah dibikin penasaran sama buku ini. Apalagi judulnya mengandung kata puzzle. Dalam bayanganku, novel ini pasti berisi teka-teki yang minta dipecahin (kaca kaliii, dipecahin :v ).

Plot cerita dalam novel ini maju-mundur dengan sudut pandang orang pertama. Beberapa bagian menceritakan masa lalu Yun Geon, terutama menyangkut cinta pertamanya, Eun Je. Karena ini adalah cerita drama dengan bumbu romance, jadi alurnya lambat banget. Terus terang aku agak tertatih-tatih membaca novel ini. Selain karena bukunya yang tebal banget, narasinya lebih banyak menceritakan keseharian para tokoh dan pergolakan batin sang tokoh utama. Saranku sih kalau baca buku ini usahakan dalam keadaan tenang dan santai, karena dibutuhkan fokus untuk mengikuti alur berpikir sang tokoh utama. Jangan kayak aku, bacanya sambil momong bayi yang lagi jejeritan. Nggak nyambung, Jeng 😀

Meski plotnya lambat, ceritanya nggak bisa ditebak. Sepanjang cerita aku berteori macam-macam, tapi ternyata dugaanku salah semua. Kim pinter banget menyesatkan pembaca. Tapi, aku salut dengan Kim, karena alur yang lambat ini tidak membuatku bosan. Sebaliknya, rasa penasaranku semakin meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah halaman yang kubaca. Sejumlah pertanyaan yang selalu dikemukan oleh Yun Geon di sepanjang cerita seakan mendesakku untuk terus dan terus membalik halaman demi halaman untuk mendapatkan jawaban dari semua pertanyaan tersebut.

Sisi romansanya cukup membuatku terhibur. Karena para tokoh adalah orang-orang yang sudah dewasa, maka mereka mengungkapkan perasaan mereka dengan dewasa pula. Aku suka dengan Na In Yeong yang dengan gamblang menyatakan keinginannya untuk kembali menjalin hubungan dengan Yun Geon. Meskipun pada awalnya Yun Geon enggan untuk berhubungan lagi dengan In Yeong, aku senang dia tidak menghindari wanita itu.

“Masa lalu itu hanya terhenti sejenak. Apa susahnya menyambungnya kembali?”–Na In Yeong, hlm. 203.

Karena ini adalah buku Kim Eun Jeong-ku yang pertama, jadinya aku nggak bisa membandingkannya dengan karya-karyanya yang sebelumnya. Tapi dari hasil aku googling, sepertinya Puzzle of Lies memang menyajikan tema yang sangat berbeda dari beberapa novelnya yang sudah lebih dulu diterjemahkan oleh Penerbit Haru. Novel Puzzle of Lies ini menyuguhkan tema yang berat seperti isu pelecehan seksual, perebutan harta warisan, dunia hukum dan profesi di dalamnya, sampai dengan upaya pembunuhan. Ingatan Yun Geon akan cinta pertamanya yang hilang serta penyesalannya yang mendalam juga memberikan emosi yang kuat pada novel ini.

Karakter

Jo Yun Geon, sang tokoh utama, awalnya digambarkan sebagai sosok yang sinis, dingin, dan hanya peduli pada dirinya sendiri. Sebagai seorang pengacara, menurutku dia tidak punya idealisme sama sekali. Pokoknya, segala sesuatu dia ukur hanya berdasarkan untung dan rugi. Tapi, sifat jeleknya itu mulai berubah saat menjalani hari-harinya bersama Dan Tae. Yun Geon menjadi semakin hangat dan sabar, dan kebaikan yang sebenarnya ada di dalam dirinya pun semakin lama semakin terlihat. Ah, anak kecil memang sering membawa keajaiban bagi orang dewasa di sekitarnya.

Ahn Dan Tae, bocah yang baru berumur sembilan tahun ini cerdas dan terbilang sangat dewasa untuk ukuran anak seusia dirinya. Dia mampu mengimbangi Yun Geon ketika mendiskusikan kasus pelecehan seksualnya. Dia bahkan berani menghadapi kemungkinan kalah di persidangan nanti. Namun, bocah tetaplah bocah. Dan Tae bisa tertawa ceria, bermanja-manja, dan merajuk layaknya anak kecil. Tingkahnya polos dan menggemaskan.

Surat Dan Tae untuk Yun Geon. Omo! Menggemaskan sekali >.<

Na In Yeong adalah mantan pacar Yun Geon. Dia seorang jaksa yang penampilannya tidak mirip jaksa sama sekali. Meskipun sudah lama putus, sepertinya In Yeong masih berharap dia dan Yun Geon bisa berhubungan kembali. In Yeong adalah wanita yang cerdas, tapi dia juga perhatian sekali sama Yun Geon. Awalnya kukira dia ini tipe-tipe cewek nyebelin. Ternyata dia baik banget.

Go Mi Hyang bisa dibilang salah satu teman dekat Yun Geon semasa kuliah dulu. Dia juga mengetahui masa lalu Yun Geon dan Eun Je. Mi Hyang selalu bersikap galak pada Yun Geon karena dia menganggap Yun Geon telah menyakiti Eun Je. Ah, persahabatan antarwanita memang menyentuh sekali.

Ahn So Ni adalah ayah Dan Tae. Dia ini seorang konduktor yang terkenal dan sering bepergian ke luar negeri. So Ni adalah jenis pria yang mencintai keluarganya. Dia sayang banget sama Dan Tae. Setiap kali membaca interaksi So Ni dan Dan Tae, aku jadi meleleh. Sweet banget, soalnya.

Ending

Jujur, awalnya aku agak ketar-ketir menghadapi ending novel ini. Secara tau sendiri kan, drama Korea suka bikin patah hati gitu ending-nya. Tapi, alhamdulillah, aku puas sama akhir novel ini.

Alih bahasa dan desain cover

Dalam segi terjemahannya, menurutku cukup baik. Ada beberapa bagian yang membuatku harus berkali-kali membacanya untuk menangkap makna kalimat tersebut. Aku rasa ini karena aku belum terbiasa membaca novel terjemahan selain terjemahan Bahasa Inggris, makanya aku agak kagok dengan gaya penceritaannya.

Untuk desain cover, aduh maaak, cakep banget iniiih. Manis banget buat feeds Instagram. Penerbit Haru emang jawara bikin cover yang unyu-unyu kayak gini #gemesh.

Overall

Aku cukup puas dengan novel ini. Bangunan cerita, penokohan, romansa, teka-teki, hingga ending-nya. Aku merekomendasikan buku ini untuk pembaca delapan belas tahun ke atas, karena temanya agak terlalu berat untuk pembaca remaja. Terus, kalau kamu penggemar cerita drama keluarga dengan bumbu romance ala-ala drama Korea, buku ini cocok banget buat kamu.

My rating: ♥♥♥♥ of 5

Terima kasih untuk Penerbit Haru karena sudah memberikan kesempatan padaku untuk meresensi novel keren ini. Happy birthday, wish you all the best ^_^

 

banner-blogtour-puzzleoflies

Sudah siap buat ikutan giveaway-nya? Oke. Jadi, blogtour + giveaway ini diadakan serentak hari ini di lima blog untuk merayakan ultah Penerbit Haru yang keenam. Hadiahnya adalah satu buah novel di masing-masing blog. Jadi, akan ada lima orang beruntung yang akan mendapatkan novel Puzzle of Lies gratis persembahan dari Penerbit Haru. Baik banget kan ya Penerbit Haru ^^

Jadi, ini yang harus kamu lakukan.

1. Follow akun IG @penerbitharu, Twitter @penerbitharu, DAN/ATAU FP Penerbit Haru.

2. Follow akun IG @gitaputeri.y DAN/ATAU FB Gita Puteri Yani (please do not follow to unfollow. If you do, I’ll be so so sad 😦 )

3. Follow blog Rak Novel Gita melalui wordpress atau email.

4. Share artikel ini ke medsos kamu dengan hashtag #PuzzleofLies, #Haru6ig, dan #GAPuzzleRakNovelGita.

5. Khusus untuk pengguna IG, repost foto novel Puzzle of Lies yang aku posting hari ini (18 Januari 2017).

6. Unggah foto kamu bersama ucapan ulang tahun untuk Penerbit Haru di medsosmu.

7. Di caption­-nya, tuliskan:

  • Doa dan harapanmu untuk Penerbit Haru.
  • Rekomendasikan minimal DUA (2) judul yang sudah diterbitkan oleh Penerbit Haru untuk aku baca beserta alasannya. Kalau kamu belum pernah baca buku dari Penerbit Haru, boleh juga rekomendasiin yang dari Penerbit Spring atau Penerbit Inari.
  • Sertakan hashtag #PuzzleofLies, #Haru6ig, dan #GAPuzzleRakNovelGita.
  • Tag aku dan Penerbit Haru di foto kamu.

8. Tuliskan data diri sebagai berikut di kolom komentar di bawah ini.

  • Nama:
  • Nama akun medsos:
  • Link foto:
  • Link artikel:

9. Giveaway ini akan DITUTUP pada tanggal 22 Januari 2017 pukul 23.59 WIB.

10. Pemenang akan secepatnya aku umumkan di blog ini.

Oya, kamu juga bisa cek resensi dari host blogtour lainnya di blog Gea, Tya, Ratna, dan Nay

That’s all. Semoga beruntung ^_^

Gita

[Resensi] Blogtour + Giveaway: An Ember in the Ashes by Sabaa Tahir

Medan pertempuran adalah kuilku. Ujung pedang adalah pendetaku. Tarian kematian adalah doaku. Pukulan mematikan adalah pembebasku.

—Elias Veturius 

4

Detail Buku
Seri: An Ember in the Ashes #1
Genre: young adult, fantasy, dystopian, thriller, romance
Penerbit: Spring
Penerjemah: Yudith Listiandri
Penyunting: Mery Riansyah
Terbit: Desember 2016
Bahasa: Indonesia
Jumlah halaman: 520
ISBN: 978-602-74322-8-4

Blurb

Laia seorang budak. Elias seorang prajurit. Keduanya bukan orang merdeka.

Saat kakak laki-laki Laia ditahan dengan tuduhan pemberontakan, Laia harus mengambil keputusan. Dia rela menjadi mata-mata Komandan Blackcliff, kepala sekolah militer terbaik di Imperium, demi mendapatkan bantuan untuk membebaskan kakaknya. Di sana, dia bertemu dengan seorang prajurit elit bernama Elias.

Elias membenci militer dan ibunya, Sang Komandan yang brutal. Pemuda ini berencana untuk melarikan diri dari Blackcliff, menanggung risiko dicambuk sampai mati jika ketahuan. Dia hanya ingin bebas.

Elias dan Laia. Keduanya akan segera menyadari bahwa nasib mereka akan saling silang, dan keputusan-keputusan mereka akan menentukan nasib Imperium, dan bangsa mereka.

*****

“Lima ratus tahun yang lalu, bangsa Martial menaklukkan wilayah Scholar, dan sejak itu kami ditindas dan diperbudak. Dahulu, Kekaisaran Scholar merupakan rumah bagi universitas dan perpustakaan terbaik di dunia. Sekarang, sebagian besar rakyat kami tidak bisa membedakan antara sekolah dan gudang senjata.”—hlm. 9-10.

Laia, seorang gadis remaja Scholar berusia tujuh belas tahun, mendapati hidupnya yang tenang mendadak jungkir balik. Kakak lelakinya, Darin, ditangkap karena dituduh memberontak, kakek dan neneknya dibunuh, dan rumahnya dibakar habis. Laia yang ketakutan melarikan diri dan pada akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan kelompok pemberontak, Resistance. Oleh sang pemimpin kelompok, Mazen, Laia ditugaskan untuk memata-matai Komandan sekolah militer Blackcliff yang terkenal kejam, brutal, dan senang menyiksa. Sebagai gantinya, sang pemimpin berjanji untuk membantu Laia membebaskan kakaknya yang ditahan dipenjara yang paling dijaga ketat di Imperium. Segera saja, Laia yang pengecut menjalani hari-hari menegangkan sebagai budak-garis-miring-mata-mata Komandan Blackcliff.

Laia berusaha keras melaksanakan tugas mata-matanya sambil menyelesaikan pekerjaannya sebagai budak dengan harapan apa yang dia lakukan dapat menolong kakaknya keluar dari penjara. Namun yang tidak dia sangka, dia mendapati sejumlah kenyataan yang tidak sesuai dengan apa yang selama ini dia ketahui. Tentang orang tuanya, Darin, Resistance, dan sang Komandan itu sendiri. Dia jadi tidak tahu lagi siapa yang bisa dipercaya.

Di lain pihak, Elias Veturius sudah muak dengan kehidupan yang dijalaninya. Sebagai salah seorang prajurit Mask paling berbakat di Blackcliff, Elias memiliki masa depan yang cerah. Namun, dia merasa terkekang dengan semua itu. Yang dia inginkan hanyalah kebebasan untuk menjalani hidupnya. Rasa muaknya semakin tak tertahankan sehingga dia memutuskan untuk melarikan diri walaupun risikonya adalah dihukum cambuk sampai mati oleh sang Komandan yang juga ibu kandungnya sendiri, Keris Veturia.

Usaha pelariannya tidak berhasil, dan itu membuat Elias semakin frustrasi. Di tengah kegalauannya, dia diberi tahu oleh Augur bahwa dia boleh melarikan diri namun tak akan bisa lepas dari takdirnya. Bahwa jika dia tetap nekat melarikan diri, maka dia akan berubah menjadi jahat, tanpa ampun, dan kejam.

“…Kau adalah bara di tengah abu, Elias Veturius. Kau akan menyala dan membakar, merusak dan menghancurkan. Kau tak bisa mengubahnya. Kau tak bisa menghentikannya.”—hlm. 80.

Augur juga memberi tahu Elias bahwa dia terpilih sebagai salah satu kandidat kaisar dan harus mengikuti empat ujian bersama tiga kandidat lainnya untuk menentukan siapa yang layak menjadi kaisar selanjutnya.

“… Kau boleh melarikan diri. Kau boleh meninggalkan tugasmu. Tapi, kau tidak bisa lepas dari takdirmu.”—hal. 80.

Merasa tidak punya pilihan lagi, Elias akhirnya pasrah dan memutuskan untuk mengikuti perintah Augur untuk menjalani Ujian sebagai salah satu kandidat kaisar.

“Jadi, pilihanku adalah tetap tinggal dan menjadi jahat, atau melarikan diri dan menjadi jahat. Benar-benar hebat.”—hal. 91.

*****

Kalau aku harus menggambarkan An Ember in the Ashes dalam dua kata sifat, maka itu adalah memikat sekaligus brutal. Sabaa Tahir telah menciptakan dunia dengan perpaduan budaya Arab yang eksotis dan Romawi Kuno yang memesona.

Buku ini emang tebel banget ya, but no worries¸ Ladies and Gents, soalnya novel ini sama sekali nggak bosenin. Di sini, Sabaa lihai banget dalam membangun ketegangan dan menyisipkan teka-teki yang sedikit demi sedikit terpecahkan, sehingga aku nggak bosan membaca sebanyak 520 halaman. Yang ada malah nagih banget kepengen cepet-cepet namatin. Soalnya, aku penasaran, euy! Sejak awal cerita, aku sudah diseret ke dalam suasana yang tegang dan mencekam. Ketegangan semakin bertambah saat Laia menjalankan tugas mata-matanya. Salah satu scene yang bikin aku tegang banget adalah saat Laia menyelinap dari Blackcliff bersama Izzi untuk pergi ke Festival Bulan. Lagi asik-asiknya menikmati dansa, tiba-tiba pasukan Martial datang untuk membubarkan festival itu. Otomatis, Laia dan Izzi harus buru-buru kembali ke Blackcliff, sebab kalau sampai ketahuan, mereka bakalan dihukum habis-habisan oleh Komandan. Untung ada Elias yang menolong mereka, walaupun nyaris banget ketahuan sama Komandan.

Sabaa menggunakan sudut pandang pertama dari kedua tokoh utama. Aku pribadi suka dengan cara penceritaan seperti ini, karena aku jadi bisa tahu apa yang ada di kepala masing-masing tokoh utama. Menurutku, Sabaa melakukan pergantian sudut pandang dari Laia ke Elias dengan halus sehingga tidak menimbulkan kebingungan.

Alur cerita dalam novel ini bergerak maju dengan beberapa kilas balik dalam narasinya. Agak lambat untuk seleraku. Mungkin karena ini buku pertama sehingga fokus utama adalah pengenalan tokoh dan worldbuilding. Dunia dalam buku ini cukup detail. Aku bisa merasakan betapa kerasnya kehidupan di Imperium, betapa mencekamnya malam-malam yang harus mereka lalui. Cerita semakin memikat dengan kemunculan makhluk-makhluk mistis dari dongeng seribu satu malam seperti jin, ifrit, ghul, dan Nightbringer. Oh, ya, aku memang penggemar dongeng seribu satu malam 😀

Sayangnya, aku agak kecewa di sisi romansanya. Sebagai penggemar genre romance, aku mengharapkan interaksi yang lebih banyak antara Laia dan Elias, atau Helene dan Elias. Atau Laia dan Keenan aja juga ngga papa deh, asalkan romance-nya ditambahin dikiiit lagi #ngarep# Ketertarikan antara Laia dan Elias menurutku dangkal, karena hanya berdasarkan fisik semata, tanpa ada elaborasi lebih jauh.

“Tepukan di bahuku semakin keras, dan aku berbalik, berniat mengusir Cadet itu. Namun, aku berhadapan dengan seorang gadis-budak yang mendongak menatapku melalui bulu matanya yang lentik. Getaran panas dan mendalam berkobar dalam diriku melihat matanya yang hitam cemerlang. Untuk sesaat, aku lupa namaku sendiri.”—hal. 151-152.

Beda halnya dengan hubungan Elias dan Helene. Mereka sudah bersahabat selama 14 tahun, dan selama itu mereka sudah mengalami berbagai hal bersama. Aku memang terbelah dalam hal ini. Aku mau Laia dan Elias jadian karena sepertinya mereka memang ditakdirkan bersama. Tapi aku juga senang kalau Elias akhirnya memilih Helene karena mereka serasi banget. Intinya, sama siapa pun Elias nanti, aku tetap dukung. Gimana dengan Laia dan Keenan? Yah, well, Keenan is a sweet boy, tapi aku nggak ngerasain chemistry yang berarti antara dia dan Laia. Jadi, aku lebih memilih untuk melihat dulu maaauuu dibaaawa ke mannaaa hubungan kitaaa #eaaaaa #malahnyanyik

Terus, menurutku tokoh utama wanita di buku ini adalah Helene, bukan Laia. Sebab, cerita lebih banyak berkisar di kehidupan Blackcliff serta Ujian yang sedang berlangsung, yang artinya lebih banyak menceritakan Helene, sedangkan Laia seakan stuck dalam tugas budak-garis-miring-mata-mata-nya. Tapi, aku senang mengikuti interaksi dia dengan Izzi, terasa alami layaknya gadis-gadis muda yang senang bergosip, walaupun yang mereka gosipkan adalah sang Komandan yang mengerikan.

Another downside, banyak adegan kekerasan di sini. Rape, slavery, abuse, lengkaplah pokoknya. Meski bikin aku sering mengernyit, aku bisa memahami karena latar cerita ini terinspirasi dari kehidupan Sparta yang keras.

Karakter

Tokoh sentral dalam novel ini secara garis besar ada lima, yaitu Laia, Elias, Keenan, Helene, dan Komandan Keris Veturia.

Laia digambarkan sebagai seorang gadis cantik yang memiliki rambut gelap dan mata emas. Dia cenderung penakut tapi memiliki daya juang yang kuat. Honestly, aku nggak terlalu terkesan sama dia. Aku lebih suka sama tokoh-tokoh yang badass dan sassy macam Feyre di ACOMAF gitu deh. Tapi aku paham kenapa dia digambarkan seperti ini. Maksudku, di sini kan sudah ada Helene yang kuat. Kalau Laia jagoan juga, ditambah lagi Komandan, bisa pusing entar si Elias dikelilingi cewek-cewek tangguh. Hehehe…

Oke, serius. Meskipun penakut, Laia sangat setia sama kakaknya. Dia rela mengambil risiko terbunuh demi menyelamatkan kakaknya dari penjara Imperium. Ini bikin aku respek sama dia. Andai aku di posisi dia, belum tentu aku sanggup menjalani apa yang Laia hadapi. It’s just… she’s not my type of heroine.

Elias Veturius, terlepas dari kemampuan bertarungnya yang mematikan, adalah pribadi yang halus dan lembut. Dia juga berparas tampan dengan perawakan yang tinggi dan gagah. Cewek mana pun pasti tergila-gila sama dia. Masalahnya, karena kepribadiannya yang halus dan lembut itu, Elias jadi agak-agak kurang tegas gitu. Apalagi kalau menyangkut masalah cinta. Dia ini bimbang terus bawaannya. Duh! Kalo di dunia nyata, dia ini pasti termasuk dalam gerombolan cowok yang sering PHP nih, walaupun tanpa sengaja.

Betewe, kalian bisa bayangin nggak sih gimana rasanya pakai topeng yang terbuat dari perak cair setiap hari, setiap waktu, tanpa bisa melepaskannya? Pasti gerah banget ya. Tapi itulah nasib yang harus dijalani oleh prajurit Mask. Seorang Mask harus mengenakan topeng perak seumur hidupnya. Topeng ini tidak biasa, karena begitu dikenakan, maka semakin lama topeng itu akan semakin menyatu dengan kulit wajah seolah menjadi kulit kedua bagi pemakainya. Yang unik sekaligus bikin merinding adalah, tampaknya, semakin topeng ini menyatu dengan kulit, segala kebaikan yang ada di diri si pemakai pun akan semakin menghilang, sampai akhirnya mereka akan menjadi prajurit yang tidak memiliki belas kasih. Namun, rupanya, hal ini tidak berlaku bagi Elias, karena topengnya tidak bisa menyatu dengan kulitnya. Elias benci banget pokoknya sama topengnya itu.

“…Aku benci cara topeng itu menempel padaku seperti semacam parasit. Aku benci cara topeng itu menekan wajahku, membentuk wajahku sedemikian rupa.”—hlm. 34.

Keenan di buku pertama ini masih agak misterius. Di awal pertemuan mereka, dia bersikap dingin pada Laia dan menentang keras saat Laia akan dikirim menjadi mata-mata Komandan. Menurutnya, Laia tidak akan mampu melakukan tugasnya dengan baik. Laia sebal karena Keenan meremehkannya. Tapi, lambat laun, cowok berambut merah ini mulai menunjukkan perhatian lebih pada Laia. Meski awalnya bersikap kasar, pada akhirnya dialah yang bersedia menolong Laia membebaskan kakaknya dan berusaha keras untuk mengeluarkan gadis itu dari Blackcliff.

Helene Aquilla adalah satu-satunya Mask perempuan di Blackcliff, selain sang Komandan. Dia juga salah satu prajurit terbaik di Blackcliff dan merupakan sahabat terdekat Elias. Saking dekatnya, Elias menganggap Helene sebagai dirinya yang lain. Namun demikian, Helene sangat berbeda dengan Elias yang cenderung memberontak. Helene sangat patuh pada peraturan dan setia pada Imperium. Dia gadis yang cantik dengan rambut pirang keperakannya yang menawan dan tubuhnya yang tinggi dan langsing.

Aku bersimpati banget sama Helene, soalnya dia ini kok malang banget ya. Laia masih punya kebebasan untuk memilih, tapi Helene tidak punya pilihan selain patuh dan setia pada Imperium. Yang paling bikin ngenes itu, tentu saja, cintanya pada Elias yang bertepuk sebelah tangan.

“Mencintaimu adalah hal terburuk yang pernah terjadi padaku—lebih buruk daripada cambukan Komandan, lebih buruk dari Ujian. Ini siksaan, Elias.”—hlm. 380.

Puk puk Helene 😥

Keris Veturia adalah tokoh yang paling bikin aku penasaran. Dia ini kayak yang tahu segala-galanya, padahal dia cuma manusia biasa, walaupun emang sih dia salah satu Mask paling kuat di Imperium. Terus, dia ini seperti punya agenda sendiri, entah apa motif dan tujuannya. Aku juga nggak habis pikir, kenapa dia benci banget sama Elias. Sekesal-kesalnya sama anak, yang namanya ibu pasti sayang donk ah sama anaknya #emakbaper -_-

Ending

Seperti halnya novel-novel serial lainnya, ending cerita ini menggantung. Tapi tenang aja, karena buku kedua versi English-nya sudah terbit, jadi seharusnya kita bisa berharap nggak perlu terlalu lama nungguin versi terjemahannya.

Alih bahasa dan desain cover

Dari segi terjemahan, kuacungkan dua jempol buat Yudith Listiandri. For your information, sebelum versi bahasa Indonesia ini terbit, aku sudah baca versi English-nya, jadi aku bisa bandingin. Aku salut sama penerjemahnya karena berhasil mengalihbahasakan novel ini secara mengalir dan enak dibaca.

Cover buku ini cantik banget. Paling cantik dari semua versi yang ada, menurutku. Buat para bibliophile dan bookstagrammer di luar sana, buku ini pas banget buat kalian untuk dikoleksi karena very collectable and instagramable. Ditambah lagi bookmark yang menjadi bonusnya juga keren banget.

Overall

Ini salah satu novel young-adult paling keren yang pernah aku baca sampai saat ini. Cerita yang memukau, terjemahan yang mengalir lancar, plus desain cover dan bookmark yang cantik bikin novel ini layak menghuni rak novel kamu. Dan, kalo kamu penggemar genre distopia, thriller, misteri, dan nggak terlalu keberatan sama scene-scene yang agak sadis, then this one is definitely for you.

My rating: ♥♥♥♥♥

banner-ember-blogtour

And now, giveaway tiiiiime! ^_^

Oke, seperti yang mungkin sudah kalian tahu, bakalan ada giveaway di akhir blogtour ini. Akan ada satu buah buku An Ember in the Ashes untuk satu pemenang, dan satu buah merchandise keren untuk satu pemenang. Syarat untuk mengikuti giveaway ini sebagai berikut.

  1. Follow akun Instagram @gitaputeri.y atau add FB Gita Puteri Yani
  2. Follow akun Instagram @penerbitspring atau Like FP Penerbit Spring
  3. Follow blog Rak Novel Gita melalui wordpress atau email.
  4. Jawab pertanyaan dari masing-masing host blogtour. Untuk mengetahui pertanyaan lainnya, silakan kunjungi blog Gea, Tya, Ratna, dan Nay.

Pertanyaan hari keempat:

Siapa nama lengkap ibu kandung Elias?

Gampang banget, kan. Jawabannya tuliskan di kolom komentar di FP Penerbit Spring bersama jawaban pertanyaan dari host blogtour lainnya pada tanggal 24 Desember 2016 nanti.

Sementara menunggu giveaway utama, ikutan mini giveaway dulu ya. Hadiahnya berupa collectable bookmark set An Ember in the Ashes untuk satu orang pemenang. Caranya sebagai berikut.

1. Follow akun Instagram @gitaputeri.y atau add FB Gita Puteri Yani

2. Follow akun Instagram @penerbitspring atau Like FP Penerbit Spring

3. Follow blog Rak Novel Gita melalui wordpress atau email.

4. Share artikel ini ke media sosialmu dan beri hashtag #GAEmberRakNovelGita

5. Jawab pertanyaan berikut.

a. Kalo kamu jadi Laia, siapa yang kamu pilih, Elias atau Keenan? Kenapa?

b. Kalo kamu jadi Helene, mana yang lebih utama buat kamu, Imperium atau cinta? Kenapa?

6. Tuliskan data dan jawaban kalian di kolom komentar di bawah ini dengan format:

Nama:

Link share:

Jawaban:

Mini giveaway ini akan ditutup pada tanggal 25 Desember 2016 pukul 23.59 WIB. Pemenangnya akan aku umumin secepatnya di blog dan Instagram-ku.

Good luck and until my next post, Fellas!

Gita