[Resensi] Loving the Pain by Rara Ayu

IMG_20170614_094611-01

🌸 Detail Buku

PhotoGrid_1497423512794

🌸 Blurb

PhotoGrid_1497422432785

🌸 Sinopsis

“Cinta itu bukan siapa yang kuat maka dialah yang bertahan. Tapi cinta adalah siapa yang ikhlas maka dialah yang menang.”

Risa Kirana, seorang karyawan berusia 24 tahun, hanya menginginkan kehidupan yang tenang bersama putranya, Kayhan, yang baru berumur 5 tahun. Risa menjalani hidupnya dengan riang dan penuh semangat. Namun, segalanya mulai berubah sejak dia bertemu dengan CEO perusahan tempat dia bekerja.

Javier Cana Gomez adalah seorang pria yang sukses meskipun usianya masih muda, 27 tahun. Dia tampan dan berkuasa sehingga banyak wanita yang menginginkan dirinya. Namun sayang, sepertinya dia tidak tertarik.

Risa dan Javier bertemu secara tak sengaja. Risa ternyata bekerja di perusahaan tempat Javier menjadi CEO-nya. Sejak pertemuan pertama mereka, Javier sudah merasakan ketertarikan yang tak biasa pada Risa. Ketertarikannya semakin meningkat seiring interaksi mereka yang semakin sering, hingga pada akhirnya Javier memutuskan untuk menjadikan Risa miliknya.

Apakah Risa menerima sang pria idaman? Ternyata tidak. Risa tidak membutuhkan pria. Setidaknya, tidak untuk saat ini. Tapi, Javier sangat gigih dalam mengejarnya sehingga sering kali membuat Risa kelimpungan sendiri. Ditambah lagi, Kayhan sangat menyukai si ‘Om Api’ ini. Setelah mempertimbangkan segalanya, Risa akhirnya menerima Javier.

Risa berharap dia bisa memulai hidup baru yang bahagia bersama Javier dan Kayhan. Akan tetapi, sejumlah rahasia masa lalu justru terkuak. Rahasia-rahasia pahit yang mengancam kebahagiaan Risa dan Javier. Kembalinya orang-orang dari masa lalu mereka membuat situasi menjadi semakin sulit, sehingga keadaan tersebut memaksa Risa mengambil keputusan-keputusan yang sulit dan menyakitkan.

🍀🍀🍀

🌸 What I ❤

Aku suka dengan kemampuan penulisnya dalam merangkai kata-kata sehingga menjadi untaian kalimat yang indah. Ide ceritanya pun lumayan bagus. Hanya saja memang masih perlu dipoles lagi agar lebih halus.

🌸 What I 💔

Ada beberapa poin yang menjadi catatanku selama membaca novel ini.

1. Untuk karakter, harus kuakui, mereka gagal membuatku terpesona. Javier bikin aku pengen makan batako saking sebelnya, dan Risa bikin aku pengen garuk-garuk tembok pakai garu saking geregetannya dengan sikap dan keputusannya. Sedangkan untuk tokoh figurannya, sayang sekali, nggak ada yang berkesan buatku.

2. Terlalu banyak konflik dan drama tapi minim emosi. Novel ini tebal, tapi pendalaman emosi setiap tokoh masih kurang. Padahal dengan sekian banyaknya konflik, emosi para tokoh bisa lebih dieksplorasi lagi. Menurutku akan lebih bagus jika konfliknya fokus pada satu atau dua hal namun dieksplorasi secara mendalam sehingga bangunan cerita dan karakternya lebih kuat.

3. Terlalu banyak adegan dewasa, padahal  menurutku adegan-adegan itu nggak ngaruh sama sekali buat jalan cerita. Dua atau tiga adegan ciuman dan adegan ranjang nggak masalah buatku. Tapi, kalau hot scene-nya hanya berjarak 2-3 lembar dari hot scene sebelumnya bagiku itu terlalu berlebihan.

4. Penulis terlalu sering menggunakan kata “entahlah” dan “sudahlah” ketika sedang mendeskripsikan suasana atau alur berpikir sang tokoh sehingga bikin narasinya ngambang. Terus terang, ini cukup disayangkan. Sebab, saat aku lagi serius-seriusnya memahami para karakter, tiba-tiba penjelasan itu berhenti di tengah jalan, yang mana itu bikin aku bingung.

5. Di awal-awal, aku merasa plotnya terlalu cepat berpindah-pindah sehingga bikin aku bingung dan pusing. Untungnya, di pertengahan cerita hal ini membaik.

6. Untuk scene-scene yang sangat penting dan yang mendekati klimaks, penulis justru memilih untuk melewatkannya dan hanya menjelaskannya melalui dialog para tokoh. Ini sangat disayangkan, sebab jika penulis lebih mengeksplorasi bagian-bagian tersebut, menurutku akan menjadi poin lebih yang akan menguatkan cerita dalam novel ini.

7. Untuk segi teknis, mohon maaf, dengan sangat terpaksa harus kukatakan, bahwa penyuntingannya nggak bagus, kalau nggak mau dibilang ancur. Mulai dari typo yang bertebaran hingga tata bahasa dan EYD yang berantakan. Ini benar-benar mengganggu dan memperlambat proses membaca. Sebab, setiap kali aku nemu typo atau tata bahasa yang nggak sesuai, mau nggak mau aku langsung terhenti bacanya sambil mikir.

8. Nggak ada label DEWASA pada novel ini, padahal novel ini jelas untuk 21+. Aku berharap ini menjadi perhatian pihak penerbit. Menurutku label pada novel sangat penting karena ini yang menjadi acuan bagi para pembaca untuk menyeleksi bahan bacaan yang sesuai dengan umur mereka.

🌸 Cover

Pertama kali liat kovernya, entah kenapa aku teringat sama novel-novelnya Marga T. yang terbit tahun ’80-’90an. Kesannya jadul banget 😄 Aku nggak terlalu suka sama desainnya, tapi aku suka sama warna kuningnya yang kalem.

🌸 Overall

In my humble opinion, novel ini memang masih banyak kekurangannya, tapi, bukan berarti aku nggak menghargai karya penulis. Bagaimanapun juga, bukanlah suatu hal yang mudah untuk melahirkan sebuah karya. Namun demikian, sebuah karya perlu melalui berbagai proses dan polesan agar dapat dinikmati oleh para pembaca. Dalam hal ini, peran editor tentu sangat vital. Kritikanku di sini bukan hinaan, melainkan saran yang aku harap dapat membangun ke arah yang positif. Semoga ke depannya nanti, penulis mampu melahirkan karya yang lebih baik lagi. SEMANGAT! 💪💪💪

🌸 Final verdict

PhotoGrid_1497424089223

🌸 Rekomendasi

Aku merekomendasikan novel ini buat kamu yang suka dengan cerita roman dengan bumbu drama keluarga yang kental.

 

Xoxo,

Gita 😘

[Resensi] Blog Tour + Giveaway: Majo and Sady Vol. 1 by Jung Chul Yeon

PhotoGrid_1494819656775

Annyeong, everyone 😊😊😊

Kali ini aku kembali dipercaya oleh Penerbit Haru untuk menjadi host Blog Tour + Giveaway Majo and Sady Vol. 1 (thank you, Ayam Haru 😚😚😚). Sudah pernah baca komik ini? Belum? Kalo gitu, baca dulu resensi dariku ya. Ssst… Bakalan ada giveaway-nya juga loh. So, stay tune 😉

🎀 Detail buku

PhotoGrid_1494818027807

🎀 Blurb

PhotoGrid_1494820138578

🎀 Sinopsis & ulasan

Majo and Sady adalah serial webtoon yang terkenal banget di negara asalnya sana, Korea Selatan. Komik ini bercerita tentang keseharian seorang bapak pengurus rumah tangga dan istrinya yang seorang pegawai kantoran. Sang bapak pengurus rumah tangga divisualisasikan sebagai seekor beruang cokelat gemuk bernama Majo, sedangkan istrinya kelinci putih bernama Sady. Mirip Brown dan Cony di LINE ya 😄

Majo sebenarnya bukan pengangguran, melainkan seorang komikus yang bekerja dari rumah. Karena waktunya lebih banyak dihabiskan di rumah, maka dia memutuskan untuk mengerjakan sendiri pekerjaan rumah.

Banyak kejadian lucu dalam keseharian Majo sebagai bapak pengurus rumah tangga dan kehidupan pernikahannya dengan Sady. Tak jarang, komik ini juga menampilkan perdebatan-perdebatan kecil yang memang biasa dialami oleh para pasutri pada umumnya, seperti membeli barang apa, masalah toilet, menu makan malam, dan sebagainya. Salah satu yang paling lucu sekaligus realistis banget itu menurutku adalah cerita tentang penyakit konsumtif mereka. Majo yang suka sekali membeli gawai dan Sady yang sangat gemar berbelanja fashion dan kosmetik. Namun, ketika diingatkan pada isi rekening, mereka dengan sendirinya menahan diri (walaupun sambil menangis pilu) dan akhirnya batal membeli barang-barang kesukaan mereka itu. Rupanya, bukan aku dan suamiku saja yang mengalami hal ini. Pasutri di Korsel pun mengalaminya 😂😂😂

Hal menyenangkan lainnya dalam komik ini yaitu adanya potongan adegan dari salah satu komik favoritku sepanjang masa, Slam Dunk. Potongan adegan itu diambil dari jilid 15 dan 31. Ini kejutan yang menyenangkan buatku. Kayaknya si penulis baca komik Slam Dunk juga kayak aku 😂😂😂

Setelah beberapa bab cerita, aku sadar bahwa komik ini dibuat berdasarkan kehidupan pribadi si penulis. Hal ini terlihat dari beberapa sisipan foto yang digunakan sebagai setting cerita di komik ini.

Majo and Sady Vol. 1 dibuat dalam bentuk komik 4 strip dan dicetak dalam full colour. Makanya, jangan heran harganya agak sedikit ehem 😅😆 Selain itu, tulisannya kecik-kecik sangat laaah, jadi, sangat disarankan untuk membaca komik ini dengan penerangan yang cukup.

🎀 Karakter

Kabarnya, nama Majo diambil dari kata masochist, dan Sady dari kata sadist. Penamaan ini sesuai banget sama karakter para tokohnya: Majo yang penurut sama istri, dan Sady yang blak-blakan dan galak sama Majo namun sebetulnya sangat perhatian dan menyayangi suaminya itu.

🎀 Ending

Karena ini komik yang menceritakan keseharian penulisnya, jadi tidak ada ending pada komik ini.

🎀 Alih bahasa & desain sampul

Secara keseluruhan, tidak ada masalah dengan penerjemahannya. Aku bisa memahami jalan cerita tanpa kesulitan yang berarti. Kalaupun ada yang terasa aneh, paling cuma beberapa lelucon yang masih terasa Korsel banget, alias sulit dipahami orang Indonesia, sehingga yang harusnya lucu jadi garing banget. Mungkin karena perbedaan kultur kita kali ya. Jadi, bagi mereka lucu, buat kita malah 😶😑🤔

Desain sampul cukup baik. Dengan warna kuning gonjreng ditambah dengan gambar Majo dan Sady di sampulnya, komik ini eye-catchy banget.

🎀 Overall

Karakter Majo dan Sady yang kocak sering kali membuatku ngakak sendiri. Komik ini sangat menghibur dan membuatku mampu untuk sejenak melupakan beratnya kenyataan hidup antrian panjang novel-novel fantasi di daftar TBR-ku 😆😆😂

🎀 Final verdict

PhotoGrid_1494818597346

🎀 Rekomendasi

Karena komik ini bercerita tentang kehidupan rumah tangga, aku lebih merekomendasikan ini untuk pembaca dewasa. Tapi, pembaca remaja pun dapat menikmati komik ini, sebab kontennya masih cukup aman. Namun, yang perlu jadi perhatian ekstra adalah adanya beberapa scene Majo dan Sady minum minuman beralkohol, walaupun nggak banyak dan nggak graphic banget juga.

🎀🎀🎀

Nah, sekarang saatnya kita ber-giveaway riaaa 😆 Siapa yang sudah nungguuu?

Akan ada dua eksemplar komik Majo and Sady di final giveaway di FP Penerbit Haru nanti. Nah, selama menunggu giveaway utama nanti, ikutan mini giveaway-nya dulu ya. Berhadiah satu buah notes Majo and Sady untuk kamu yang beruntung.

Sebelum ikutan giveaway, cek rules-nya dulu ya.

1. Beralamat di Indonesia

2. Like fanspage Penerbit Haru

3. Follow akun Instagram  @gitaputeri.y dan @penerbitharu, serta Twitter @gitaputeri_y dan @penerbitharu

4. Follow blog ini melalui WordPress atau email.

5. Share artikel ini di media sosial kamu. Bebas di media sosial mana saja.

a. Jika di Twitter, mention aku dan cantumkan hashtag #BlogTourMajoSady1and2.

b. Jika di Instagram, repost foto seperti foto yang paling atas di artikel ini yang sudah aku unggah di akun Instagram-ku dan cantumkan hashtag #BlogTourMajoSady1and2.

6. Tulis data diri kalian di kolom komentar di bawah ini:

Nama:

Nama akun FB:

Asal:

Link share/repost:

7. Kumpulkan kepingan puzzle dari setiap host blog tour. Kepingan dariku sebagai berikut.

Gita Puteri Y

8. Satukan semua kepingan tersebut dan tuliskan jawabannya di FP Penerbit Haru SETELAH seluruh rangkaian blog tour ini berakhir. Jadi, jawabnya bukan di sini dan nggak sekarang ya 😉

9. Pemenang notes Majo and Sady akan ditentukan dengan cara diundi dengan pertimbangan sudah mengikuti semua rules dengan benar.

10. Mini giveaway ini berlangsung hingga 20 Mei 2017 pukul 23.59 WIB dan akan aku umumkan secepat mungkin.

Nah, gampang, kan? Atau masih ada pertanyaan? Silakan tulis di kolom komentar atau DM ke IG atau Twitter-ku ya 😘

Berikut jadwal blog tour Majo and Sady Vol. 1 and 2.

Blogtour Majo banner

Xoxo,

Gita 😚😘

[Resensi] Cinder by Marissa Meyer, Kisah Cinderella di Era Futuristik

“Mereka mengambil gaun-gaunnya yang indah, menyuruhnya memakai baju kerja abu-abu tua, dan memberinya sepatu tua.”

cinder

Detail Buku
Seri: The Lunar Chronicles #1
Genre: young adult, fantasy, dystopian, romance
Penerbit: Spring
Penerjemah: Yudith Listiandri
Penyunting: Selsa Chintya
Proofreader: Titish A.K.
Cetakan I: Januari 2016
Bahasa: Indonesia
Jumlah halaman: 384
ISBN: 978-602-71505-4-6
💝: 4 of 5

🍀 Blurb

Wabah baru tiba-tiba muncul dan mengecam populasi penduduk Bumi yang dipenuhi oleh manusia, cyborg, dan android. Sementara itu, di luar angkasa, orang-orang Bulan mengamati mereka, menunggu waktu yang tepat untuk menyerang.

Cinder, seorang cyborg, adalah mekanik ternama di New Beijing. Gadis itu memiliki masa lalu yang misterius, diangkat anak dan tinggal bersama ibu dan dua orang saudara tirinya. Suatu saat, dia bertemu dengan Pangeran Kai yang tampan. Dia tidak mengira pertemuannya dengan sang Pangeran akan membawanya terjebak dalam perseteruan antara Bumi dan Bulan. Dapatkah Cinder menyelamatkan sang Pangeran dan Bumi?

🍂🍂🍂

Linh Cinder terkenal sebagai seorang mekanik terbaik di New Beijing. Dia mampu memperbaiki barang elektronik apa pun. Namun, ada satu “keistimewaan”-nya yang tidak dimiliki oleh orang lain: dia seorang cyborg. Cyborg adalah cybernatic organism, yaitu makhluk hidup yang memiliki bagian-bagian tubuh robot.

Suatu hari, seorang pemuda mendatangi stan kecil Cinder di pasar dan memintanya untuk memperbaiki android tua pemuda tersebut. Betapa terkejutnya dia saat mengenali pemuda itu sebagai Pangeran Kai, pewaris takhta kekaisaran Persemakmuran Timur. Memandang pemuda itu dari jarak dekat membuat Cinder sadar bahwa dia tidak imun terhadap pesona sang Pangeran seperti yang selama ini dia yakini.

“…Meskipun Pangeran Kai sudah lama menjadi salah satu topik favorit Peony—gadis itu mungkin sudah menjadi anggota semua grup fan Pangeran di Internet—Cinder tidak pernah membayangkan bahwa dia juga akan merasakan kekaguman yang sama.” —hlm. 43.

Sementara itu, wabah letumosis semakin ganas. Wabah ini telah merenggut ratusan ribu jiwa di seluruh dunia sejak pertama kali ditemukan dua belas tahun yang lalu. Pangeran Kai berusaha sekuat tenaga untuk menemukan vaksin demi mengatasi wabah yang telah membunuh kedua orang tuanya itu, salah satunya dengan cara melanjutkan regulasi cyborg. Regulasi ini mewajibkan para cyborg di Persemakmuran Timur yang terpilih dengan cara diundi untuk menjadi kelinci percobaan dalam pengujian vaksin, dan berkat ibu tirinya, Cinder terpaksa menerima nasib untuk menjadi kelinci percobaan tersebut.

Cinder pun akhirnya dibawa ke fasilitas penelitian vaksin letumosis. Walaupun murka luar biasa, dia sudah pasrah, yakin bahwa dirinya tidak akan pernah keluar dari tempat itu hidup-hidup. Namun, ternyata Cinder berhasil selamat dari pengujian tersebut dan, bersamaan dengan itu, masa lalunya yang penuh misteri pun mulai terungkap.

🍂🍂🍂

Jujur saja, awalnya aku nggak begitu antusias sama serial ini karena ceritanya berdasarkan fairytale yang menurutku sudah mainstream banget. I was like, Cinderella? Seriously? Tapi, lama-lama aku penasaran juga, soalnya banyak review positif mengenai serial ini. Ditambah lagi, promosi dari penerbitnya yang jor-joran banget, bikin aku akhirnya tergoda juga. Inilah masalahnya kalau kamu keseringan stalking IG-nya penerbit-penerbit itu. Bikin kamu yang awalnya cool aja akhirnya luluh juga 😥

Aku mulai membaca novel ini tanpa ekspektasi yang tinggi. Because, you know, Cinderella and all. It turned out, I. LOVED. IT. So much. Aku suka banget dengan penokohannya. Cinder sang Mekanik. Karena profesinya itu, dia jadi selalu kotor. Ini pas dengan karakter Cinderella yang memang selalu kotor karena harus membersihkan rumah setiap hari. And a cyborg! That’s a really nice touch, I have to say.

Betewe, aku baru tau loh kalo dongeng Cinderella ini aslinya berasal dari negeri Tiongkok. Pantesan aja latar tempat dalam cerita ini adalah New Beijing. Selain itu, background era ketiga yang futuristik banget menurutku adalah ide yang brilian. Sependek pengetahuanku, selama ini kan cerita-cerita yang terinspirasi dari dongeng Cinderella kebanyakan berlatar zaman dulu atau kontemporer, tapi belum pernah yang berlatar futuristik, apalagi Cinderella-nya seorang cyborg. Jadi ini fresh banget menurutku.

Cerita berjalan sangat lambat. Di bab-bab awal, aku sempat merasa bosan. Aku tidak tahu ceritanya akan mengarah ke mana. Tapi ketertarikanku terpantik kembali saat masa lalu Cinder mulai terkuak. Aku memang sudah menebak siapa Cinder sebenarnya, mengingat novel ini berdasarkan salah satu dongeng paling populer di dunia. Tapi itu tidak lantas membuat akhir cerita jadi mudah ditebak.

Seperti halnya dongeng Cinderella, di dalam cerita ini Cinder juga diundang untuk menghadiri pesta dansa tahunan kerajaan. Di sinilah yang membuatku penasaran. Kalau di cerita aslinya kan Cinderella ditolong oleh ibu peri untuk bisa menghadiri pesta dansa. Lalu, bagaimana dengan Cinder? Apa dia dibantu oleh ibu peri juga? Aku nggak bakal kasih tau. Kalian langsung aja baca bukunya sendiri yaaa. MUAAHAHAHAHA *ketawazahat*

🍀 Karakter

Linh Cinder adalah seorang remaja berusia tujuh belas tahun dengan selera humor sarkastis yang menggelitik. Dia jauh sekali dari imej Cinderella yang sering digambarkan sebagai seorang gadis cantik jelita lemah gemulai berhati malaikat. Alih-alih, Cinder digambarkan sebagai seorang gadis yang luar biasa cerdas dan berbakat, tomboy, agak skeptis, dan, walaupun tidak dijabarkan secara gamblang, Pangeran Kai berpendapat dia adalah gadis yang cantik. Cinder menyimpan kemarahan dan kepahitan dalam dirinya karena perlakuan buruk ibu dan saudara tirinya. Mungkin inilah yang membentuk karakternya menjadi sinis. Meski begitu, Cinder ternyata berhati lembut, karena dia sangat menyayangi adik tirinya, Peony, dan android-nya yang unik, Iko.

Pangeran Kaito bisa dibilang cowok idaman. Tampan, bertubuh tinggi (menurut Iko), baik hati, bijaksana, rela berkorban demi orang lain, dan, tentu saja, seorang PANGERAN! Cewek mana yang nggak suka sama pangeran, coba? XD Aku suka dengan sikapnya yang selalu optimis walaupun dihimpit oleh beratnya tanggung jawab sebagai penerus takhta kekaisaran dan intimidasi Levana. Dia memang cocok sekali dengan Cinder yang selalu skeptis. Saling melengkapi gitu deh.

Iko adalah tokoh favoritku di buku ini. Karakternya yang ceria sangat menghibur. Iko memang unik, karena dia tidak seperti android kebanyakan. Dia lebih seperti manusia yang punya perasaan daripada robot yang sudah diprogram.

Cinder beringsut. “Bisakah kita tidak bicara tentang Pangeran?”

“Kupikir itu tidak mungkin. Lagi pula, kau kan sedang mengerjakan androidnya. Coba pikirkan hal-hal yang android ini ketahui, hal-hal yang dia lihat, dan…” Suara Iko tergagap. “Apakah kau pikir dia pernah melihat Pangeran tanpa pakaian?”—hlm. 191.

Linh Adri adalah ibu tiri Cinder. Seperti di cerita aslinya, ibu tiri Cinder memang jahat. Perlakuannya terhadap Cinder keterlaluan sekali. Di buku ini karakter Adri memang tidak dielaborasi lebih dalam. Dia hanya digambarkan sebagai ibu tiri yang jahat dan membenci Cinder.

Linh Pearl & Peony adalah saudari tiri Cinder. Pearl tidak suka pada Cinder. Seperti halnya Adri, karakter Pearl tidak digali lebih dalam. Berdasarkan beberapa scene-nya, aku menangkap Pearl adalah gadis yang egois dan suka seenaknya.

Berbeda dengan Pearl, Peony memperlakukan Cinder dengan baik. Itu sebabnya Cinder sangat menyayangi adik tirinya yang manis ini. Aku juga suka sama Peony. Dia seperti remaja kebanyakan yang ngefan berat sama Pangeran Kai. Sayang sekali kita harus berpisah dengannya di buku pertama ini. Such a short journey 😥

🍀 Alih Bahasa & Desain Sampul

Penerjemahannya sangat baik, lancar, dan mudah dimengerti. Karena sang tokoh utama adalah seorang mekanik, maka tentu saja banyak istilah mesin yang muncul. Penyertaan catatan kaki di novel ini sangat membantu dalam memahami istilah-istilah tersebut.

Untuk sampulnya sendiri menurutku unik. Dengan hanya menampilkan sebelah kaki yang mengenakan sepatu, penggambaran Cinderella-nya dapet banget. Dan bookmark-nya! Ya ampun, lucu bangeeet 😣😍Sayangnya, ukuran bookmark-nya ini kekecilan menurutku. Jadinya aku sering kebingungan nyari-nyari karena sering nyempil ke mana-mana gara-gara ukuran mininya itu. Aku emang lebih suka yang big size #eh 😝

photogrid_1486124622417

Imut-imut >_<

🍀 Overall

Meskipun mudah diprediksi, Cinder cukup menyenangkan untuk dibaca. Buku ini cocok untuk pembaca remaja. Aku juga merekomendasikan buku ini untuk para penggemar cerita distopia dengan bumbu fantasi, fairytale, dan romansa manis.

[Resensi] Blogtour + Giveaway: Puzzle of Lies by Kim Eun Jeong

“…Entah apakah orang lain mmenyadari hal ini, tapi aku tetap harus mengenakan setelan bermerek agar tetap terlihat seperti kesatria hebat yang siap terjun ke dalam berbagai kasus, meskipun sebenarnya kesatria itu mengejar materi dan tidak terlalu memperhatikan kebenaran dan keadilan.” -Jo Yun Geon

img_20170115_140701

Detail Buku
Genre: adults, romance
Penerbit: Haru
Penerjemah: Putu Pramania Adnyana
Penyunting: Selsa Chintya
Proofreader: Titish A.K
Terbit: Desember 2016
Bahasa: Indonesia
Jumlah halaman: 580
ISBN: 9 786026 383037

Blurb

Namaku Jo Yun Geon, seorang pengacara.

Beberapa hari yang lalu, Mi Hyang, temanku saat kuliah, tiba-tiba menelepon ke kantor biro hukum tempatku bekerja. Dia adalah seorang hakim dan hubungan kami sedikit rumit.

“Aku ingin kau menjadi wali,” kata Mi Hyang. “Namanya Dan Tae, anak laki-laki, usia sembilan tahun.”

Sialnya, aku tidak bisa menolak saat tiba-tiba anak laki-laki itu datang ke apartemenku dan harus tinggal denganku.

Selesailah sudah kehidupan single-ku yang bebas.

>>><<<

img_20170115_153353_033

“…Memangnya keadilan dan kebenaran itu penting kalau menyangkut harta warisan? Satu-satunya yang penting hanyalah tanda tangan asli dari pemilik harta yang sudah hampir mati itu.” –Jo Yun Geon, hlm. 5.

Jo Yun Geon adalah seorang pengacara spesialis penanganan harta warisan. Suatu hari, dia mendapatkan seorang klien, yaitu seorang pria konglomerat yang sudah tua. Sang konglomerat, Tuan Ho Myeong So, meminta Yun Geon untuk menjadi walinya dan menyatakan bahwa dia tidak mau mewariskan sepeser pun hartanya kepada anak-anaknya. Awalnya, Yun Geon hendak menolak permintaan tersebut, tapi ketika bapak tua itu berjanji untuk memberikan lima persen hartanya kepada Yun Geon sebagai imbalan atas bantuannya, Yun Geon langsung manut. Haha…

Tuan Ho meminta Yun Geon untuk merekam seluruh aktivitasnya setiap hari kalau-kalau ada yang ingin membahayakan nyawanya. Sang konglomerat berkata bahwa dia ingin kematiannya terekam dengan jelas. Permintaan yang aneh sekali, tapi karena Yun Geon sudah terbiasa berhadapan dengan klien-klien yang unik, maka dia menyanggupi permintaan bapak tua itu.

Di saat yang bersamaan, Yun Geon diminta—errr, dipaksa, sebenarnya—oleh teman lamanya, Mi Hyang untuk menjadi wali dari seorang anak laki-laki berusia sembilan tahun yang mengaku telah mengalami pelecehan seksual. Yun Geon terang saja menolak. Dia ini bujangan tulen. Tidak ada tempat untuk anak-anak di dalam rumahnya, dan kehidupannya. Namun dia tidak bisa mengelak lagi ketika anak itu diantarkan langsung ke depan pintu apartemennya. Dengan amat sangat terpaksa, Yun Geon menerima anak itu untuk tinggal bersamanya.

Yun Geon tidak suka anak-anak. Itulah sebabnya dia bersikap dingin pada Dan Tae, nama anak itu. Apalagi, dengan melihat Dan Tae yang tidak memiliki ibu, Yun Geon seakan diingatkan lagi pada dirinya sendiri yang tumbuh besar tanpa kasih sayang orang tua. Ini membuatnya semakin sebal dengan anak itu.

“Tidak menikah sepertinya merupakan keputusan yang baik di kehidupanku ini. Aku merasa bersyukur sekali karena tidak memiliki anak. Seandainya aku memiliki anak, pasti keadaan gawat darurat seperti ini akan lebih sering terjadi daripada jumlah waktu makanku sehari-hari.” –Jo Yun Geon, hlm. 42.

Keadaan ini juga membuatnya harus bertemu lagi dengan para wanita dari masa lalunya, yaitu Hakim Go Mi Hyang dan Jaksa Na In Yeong. Yun Geon betul-betul tidak ingin bertemu dengan mereka lagi. Pertemuan dengan kedua wanita itu sekaligus membawa kembali kenangan cinta pertamanya yang sangat ingin dia lupakan.

“…Mereka itu bagai permen peppermint yang dimuntahkan karena menyangkut di leher. Leher memang terasa sakit, tapi rasa permen itu tetap enak. Rasanya aneh kalau harus memankan kembali permen yang sudah dimuntahkan, bukan berarti aku tidak merasa sayang karena harus membuang permen itu.” –Jo Yun Geon, hlm. 18.

Euwwwww… -_-

Sementara itu, sidang kasus pelecehan seksual yang dialami oleh Dan Tae mulai bergulir. Ada beberapa kejanggalan dalam kasus ini. Yun Geon dan Jaksa Na In Yeong meragukan cerita Dan Tae, tetapi anak itu bersikeras bahwa apa yang dia nyatakan adalah benar. Di sinilah naluri pengacara Yun Geon tergelitik. Dia berusaha menggali kasus itu lebih dalam untuk mendapatkan kebenaran. Ada apa sebenarnya di balik kasus ini? Apakah Dan Tae benar-benar mengalami pelecehan seksual? Ataukah dia berbohong? Kalau memang dia berbohong, apa motifnya?

>>><<<

img_20170117_111327_697

Ini buku serba pertama buatku. Buku pertamaku di tahun 2017, karya Kim Eun Jeong sekaligus buku Penerbit Haru pertama yang aku baca ^_^

Sejak pertama baca blurb­-nya aku memang sudah dibikin penasaran sama buku ini. Apalagi judulnya mengandung kata puzzle. Dalam bayanganku, novel ini pasti berisi teka-teki yang minta dipecahin (kaca kaliii, dipecahin :v ).

Plot cerita dalam novel ini maju-mundur dengan sudut pandang orang pertama. Beberapa bagian menceritakan masa lalu Yun Geon, terutama menyangkut cinta pertamanya, Eun Je. Karena ini adalah cerita drama dengan bumbu romance, jadi alurnya lambat banget. Terus terang aku agak tertatih-tatih membaca novel ini. Selain karena bukunya yang tebal banget, narasinya lebih banyak menceritakan keseharian para tokoh dan pergolakan batin sang tokoh utama. Saranku sih kalau baca buku ini usahakan dalam keadaan tenang dan santai, karena dibutuhkan fokus untuk mengikuti alur berpikir sang tokoh utama. Jangan kayak aku, bacanya sambil momong bayi yang lagi jejeritan. Nggak nyambung, Jeng 😀

Meski plotnya lambat, ceritanya nggak bisa ditebak. Sepanjang cerita aku berteori macam-macam, tapi ternyata dugaanku salah semua. Kim pinter banget menyesatkan pembaca. Tapi, aku salut dengan Kim, karena alur yang lambat ini tidak membuatku bosan. Sebaliknya, rasa penasaranku semakin meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah halaman yang kubaca. Sejumlah pertanyaan yang selalu dikemukan oleh Yun Geon di sepanjang cerita seakan mendesakku untuk terus dan terus membalik halaman demi halaman untuk mendapatkan jawaban dari semua pertanyaan tersebut.

Sisi romansanya cukup membuatku terhibur. Karena para tokoh adalah orang-orang yang sudah dewasa, maka mereka mengungkapkan perasaan mereka dengan dewasa pula. Aku suka dengan Na In Yeong yang dengan gamblang menyatakan keinginannya untuk kembali menjalin hubungan dengan Yun Geon. Meskipun pada awalnya Yun Geon enggan untuk berhubungan lagi dengan In Yeong, aku senang dia tidak menghindari wanita itu.

“Masa lalu itu hanya terhenti sejenak. Apa susahnya menyambungnya kembali?”–Na In Yeong, hlm. 203.

Karena ini adalah buku Kim Eun Jeong-ku yang pertama, jadinya aku nggak bisa membandingkannya dengan karya-karyanya yang sebelumnya. Tapi dari hasil aku googling, sepertinya Puzzle of Lies memang menyajikan tema yang sangat berbeda dari beberapa novelnya yang sudah lebih dulu diterjemahkan oleh Penerbit Haru. Novel Puzzle of Lies ini menyuguhkan tema yang berat seperti isu pelecehan seksual, perebutan harta warisan, dunia hukum dan profesi di dalamnya, sampai dengan upaya pembunuhan. Ingatan Yun Geon akan cinta pertamanya yang hilang serta penyesalannya yang mendalam juga memberikan emosi yang kuat pada novel ini.

Karakter

Jo Yun Geon, sang tokoh utama, awalnya digambarkan sebagai sosok yang sinis, dingin, dan hanya peduli pada dirinya sendiri. Sebagai seorang pengacara, menurutku dia tidak punya idealisme sama sekali. Pokoknya, segala sesuatu dia ukur hanya berdasarkan untung dan rugi. Tapi, sifat jeleknya itu mulai berubah saat menjalani hari-harinya bersama Dan Tae. Yun Geon menjadi semakin hangat dan sabar, dan kebaikan yang sebenarnya ada di dalam dirinya pun semakin lama semakin terlihat. Ah, anak kecil memang sering membawa keajaiban bagi orang dewasa di sekitarnya.

Ahn Dan Tae, bocah yang baru berumur sembilan tahun ini cerdas dan terbilang sangat dewasa untuk ukuran anak seusia dirinya. Dia mampu mengimbangi Yun Geon ketika mendiskusikan kasus pelecehan seksualnya. Dia bahkan berani menghadapi kemungkinan kalah di persidangan nanti. Namun, bocah tetaplah bocah. Dan Tae bisa tertawa ceria, bermanja-manja, dan merajuk layaknya anak kecil. Tingkahnya polos dan menggemaskan.

Surat Dan Tae untuk Yun Geon. Omo! Menggemaskan sekali >.<

Na In Yeong adalah mantan pacar Yun Geon. Dia seorang jaksa yang penampilannya tidak mirip jaksa sama sekali. Meskipun sudah lama putus, sepertinya In Yeong masih berharap dia dan Yun Geon bisa berhubungan kembali. In Yeong adalah wanita yang cerdas, tapi dia juga perhatian sekali sama Yun Geon. Awalnya kukira dia ini tipe-tipe cewek nyebelin. Ternyata dia baik banget.

Go Mi Hyang bisa dibilang salah satu teman dekat Yun Geon semasa kuliah dulu. Dia juga mengetahui masa lalu Yun Geon dan Eun Je. Mi Hyang selalu bersikap galak pada Yun Geon karena dia menganggap Yun Geon telah menyakiti Eun Je. Ah, persahabatan antarwanita memang menyentuh sekali.

Ahn So Ni adalah ayah Dan Tae. Dia ini seorang konduktor yang terkenal dan sering bepergian ke luar negeri. So Ni adalah jenis pria yang mencintai keluarganya. Dia sayang banget sama Dan Tae. Setiap kali membaca interaksi So Ni dan Dan Tae, aku jadi meleleh. Sweet banget, soalnya.

Ending

Jujur, awalnya aku agak ketar-ketir menghadapi ending novel ini. Secara tau sendiri kan, drama Korea suka bikin patah hati gitu ending-nya. Tapi, alhamdulillah, aku puas sama akhir novel ini.

Alih bahasa dan desain cover

Dalam segi terjemahannya, menurutku cukup baik. Ada beberapa bagian yang membuatku harus berkali-kali membacanya untuk menangkap makna kalimat tersebut. Aku rasa ini karena aku belum terbiasa membaca novel terjemahan selain terjemahan Bahasa Inggris, makanya aku agak kagok dengan gaya penceritaannya.

Untuk desain cover, aduh maaak, cakep banget iniiih. Manis banget buat feeds Instagram. Penerbit Haru emang jawara bikin cover yang unyu-unyu kayak gini #gemesh.

Overall

Aku cukup puas dengan novel ini. Bangunan cerita, penokohan, romansa, teka-teki, hingga ending-nya. Aku merekomendasikan buku ini untuk pembaca delapan belas tahun ke atas, karena temanya agak terlalu berat untuk pembaca remaja. Terus, kalau kamu penggemar cerita drama keluarga dengan bumbu romance ala-ala drama Korea, buku ini cocok banget buat kamu.

My rating: ♥♥♥♥ of 5

Terima kasih untuk Penerbit Haru karena sudah memberikan kesempatan padaku untuk meresensi novel keren ini. Happy birthday, wish you all the best ^_^

 

banner-blogtour-puzzleoflies

Sudah siap buat ikutan giveaway-nya? Oke. Jadi, blogtour + giveaway ini diadakan serentak hari ini di lima blog untuk merayakan ultah Penerbit Haru yang keenam. Hadiahnya adalah satu buah novel di masing-masing blog. Jadi, akan ada lima orang beruntung yang akan mendapatkan novel Puzzle of Lies gratis persembahan dari Penerbit Haru. Baik banget kan ya Penerbit Haru ^^

Jadi, ini yang harus kamu lakukan.

1. Follow akun IG @penerbitharu, Twitter @penerbitharu, DAN/ATAU FP Penerbit Haru.

2. Follow akun IG @gitaputeri.y DAN/ATAU FB Gita Puteri Yani (please do not follow to unfollow. If you do, I’ll be so so sad 😦 )

3. Follow blog Rak Novel Gita melalui wordpress atau email.

4. Share artikel ini ke medsos kamu dengan hashtag #PuzzleofLies, #Haru6ig, dan #GAPuzzleRakNovelGita.

5. Khusus untuk pengguna IG, repost foto novel Puzzle of Lies yang aku posting hari ini (18 Januari 2017).

6. Unggah foto kamu bersama ucapan ulang tahun untuk Penerbit Haru di medsosmu.

7. Di caption­-nya, tuliskan:

  • Doa dan harapanmu untuk Penerbit Haru.
  • Rekomendasikan minimal DUA (2) judul yang sudah diterbitkan oleh Penerbit Haru untuk aku baca beserta alasannya. Kalau kamu belum pernah baca buku dari Penerbit Haru, boleh juga rekomendasiin yang dari Penerbit Spring atau Penerbit Inari.
  • Sertakan hashtag #PuzzleofLies, #Haru6ig, dan #GAPuzzleRakNovelGita.
  • Tag aku dan Penerbit Haru di foto kamu.

8. Tuliskan data diri sebagai berikut di kolom komentar di bawah ini.

  • Nama:
  • Nama akun medsos:
  • Link foto:
  • Link artikel:

9. Giveaway ini akan DITUTUP pada tanggal 22 Januari 2017 pukul 23.59 WIB.

10. Pemenang akan secepatnya aku umumkan di blog ini.

Oya, kamu juga bisa cek resensi dari host blogtour lainnya di blog Gea, Tya, Ratna, dan Nay

That’s all. Semoga beruntung ^_^

Gita

[Resensi] Blogtour + Giveaway: An Ember in the Ashes by Sabaa Tahir

Medan pertempuran adalah kuilku. Ujung pedang adalah pendetaku. Tarian kematian adalah doaku. Pukulan mematikan adalah pembebasku.

—Elias Veturius 

4

Detail Buku
Seri: An Ember in the Ashes #1
Genre: young adult, fantasy, dystopian, thriller, romance
Penerbit: Spring
Penerjemah: Yudith Listiandri
Penyunting: Mery Riansyah
Terbit: Desember 2016
Bahasa: Indonesia
Jumlah halaman: 520
ISBN: 978-602-74322-8-4

Blurb

Laia seorang budak. Elias seorang prajurit. Keduanya bukan orang merdeka.

Saat kakak laki-laki Laia ditahan dengan tuduhan pemberontakan, Laia harus mengambil keputusan. Dia rela menjadi mata-mata Komandan Blackcliff, kepala sekolah militer terbaik di Imperium, demi mendapatkan bantuan untuk membebaskan kakaknya. Di sana, dia bertemu dengan seorang prajurit elit bernama Elias.

Elias membenci militer dan ibunya, Sang Komandan yang brutal. Pemuda ini berencana untuk melarikan diri dari Blackcliff, menanggung risiko dicambuk sampai mati jika ketahuan. Dia hanya ingin bebas.

Elias dan Laia. Keduanya akan segera menyadari bahwa nasib mereka akan saling silang, dan keputusan-keputusan mereka akan menentukan nasib Imperium, dan bangsa mereka.

*****

“Lima ratus tahun yang lalu, bangsa Martial menaklukkan wilayah Scholar, dan sejak itu kami ditindas dan diperbudak. Dahulu, Kekaisaran Scholar merupakan rumah bagi universitas dan perpustakaan terbaik di dunia. Sekarang, sebagian besar rakyat kami tidak bisa membedakan antara sekolah dan gudang senjata.”—hlm. 9-10.

Laia, seorang gadis remaja Scholar berusia tujuh belas tahun, mendapati hidupnya yang tenang mendadak jungkir balik. Kakak lelakinya, Darin, ditangkap karena dituduh memberontak, kakek dan neneknya dibunuh, dan rumahnya dibakar habis. Laia yang ketakutan melarikan diri dan pada akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan kelompok pemberontak, Resistance. Oleh sang pemimpin kelompok, Mazen, Laia ditugaskan untuk memata-matai Komandan sekolah militer Blackcliff yang terkenal kejam, brutal, dan senang menyiksa. Sebagai gantinya, sang pemimpin berjanji untuk membantu Laia membebaskan kakaknya yang ditahan dipenjara yang paling dijaga ketat di Imperium. Segera saja, Laia yang pengecut menjalani hari-hari menegangkan sebagai budak-garis-miring-mata-mata Komandan Blackcliff.

Laia berusaha keras melaksanakan tugas mata-matanya sambil menyelesaikan pekerjaannya sebagai budak dengan harapan apa yang dia lakukan dapat menolong kakaknya keluar dari penjara. Namun yang tidak dia sangka, dia mendapati sejumlah kenyataan yang tidak sesuai dengan apa yang selama ini dia ketahui. Tentang orang tuanya, Darin, Resistance, dan sang Komandan itu sendiri. Dia jadi tidak tahu lagi siapa yang bisa dipercaya.

Di lain pihak, Elias Veturius sudah muak dengan kehidupan yang dijalaninya. Sebagai salah seorang prajurit Mask paling berbakat di Blackcliff, Elias memiliki masa depan yang cerah. Namun, dia merasa terkekang dengan semua itu. Yang dia inginkan hanyalah kebebasan untuk menjalani hidupnya. Rasa muaknya semakin tak tertahankan sehingga dia memutuskan untuk melarikan diri walaupun risikonya adalah dihukum cambuk sampai mati oleh sang Komandan yang juga ibu kandungnya sendiri, Keris Veturia.

Usaha pelariannya tidak berhasil, dan itu membuat Elias semakin frustrasi. Di tengah kegalauannya, dia diberi tahu oleh Augur bahwa dia boleh melarikan diri namun tak akan bisa lepas dari takdirnya. Bahwa jika dia tetap nekat melarikan diri, maka dia akan berubah menjadi jahat, tanpa ampun, dan kejam.

“…Kau adalah bara di tengah abu, Elias Veturius. Kau akan menyala dan membakar, merusak dan menghancurkan. Kau tak bisa mengubahnya. Kau tak bisa menghentikannya.”—hlm. 80.

Augur juga memberi tahu Elias bahwa dia terpilih sebagai salah satu kandidat kaisar dan harus mengikuti empat ujian bersama tiga kandidat lainnya untuk menentukan siapa yang layak menjadi kaisar selanjutnya.

“… Kau boleh melarikan diri. Kau boleh meninggalkan tugasmu. Tapi, kau tidak bisa lepas dari takdirmu.”—hal. 80.

Merasa tidak punya pilihan lagi, Elias akhirnya pasrah dan memutuskan untuk mengikuti perintah Augur untuk menjalani Ujian sebagai salah satu kandidat kaisar.

“Jadi, pilihanku adalah tetap tinggal dan menjadi jahat, atau melarikan diri dan menjadi jahat. Benar-benar hebat.”—hal. 91.

*****

Kalau aku harus menggambarkan An Ember in the Ashes dalam dua kata sifat, maka itu adalah memikat sekaligus brutal. Sabaa Tahir telah menciptakan dunia dengan perpaduan budaya Arab yang eksotis dan Romawi Kuno yang memesona.

Buku ini emang tebel banget ya, but no worries¸ Ladies and Gents, soalnya novel ini sama sekali nggak bosenin. Di sini, Sabaa lihai banget dalam membangun ketegangan dan menyisipkan teka-teki yang sedikit demi sedikit terpecahkan, sehingga aku nggak bosan membaca sebanyak 520 halaman. Yang ada malah nagih banget kepengen cepet-cepet namatin. Soalnya, aku penasaran, euy! Sejak awal cerita, aku sudah diseret ke dalam suasana yang tegang dan mencekam. Ketegangan semakin bertambah saat Laia menjalankan tugas mata-matanya. Salah satu scene yang bikin aku tegang banget adalah saat Laia menyelinap dari Blackcliff bersama Izzi untuk pergi ke Festival Bulan. Lagi asik-asiknya menikmati dansa, tiba-tiba pasukan Martial datang untuk membubarkan festival itu. Otomatis, Laia dan Izzi harus buru-buru kembali ke Blackcliff, sebab kalau sampai ketahuan, mereka bakalan dihukum habis-habisan oleh Komandan. Untung ada Elias yang menolong mereka, walaupun nyaris banget ketahuan sama Komandan.

Sabaa menggunakan sudut pandang pertama dari kedua tokoh utama. Aku pribadi suka dengan cara penceritaan seperti ini, karena aku jadi bisa tahu apa yang ada di kepala masing-masing tokoh utama. Menurutku, Sabaa melakukan pergantian sudut pandang dari Laia ke Elias dengan halus sehingga tidak menimbulkan kebingungan.

Alur cerita dalam novel ini bergerak maju dengan beberapa kilas balik dalam narasinya. Agak lambat untuk seleraku. Mungkin karena ini buku pertama sehingga fokus utama adalah pengenalan tokoh dan worldbuilding. Dunia dalam buku ini cukup detail. Aku bisa merasakan betapa kerasnya kehidupan di Imperium, betapa mencekamnya malam-malam yang harus mereka lalui. Cerita semakin memikat dengan kemunculan makhluk-makhluk mistis dari dongeng seribu satu malam seperti jin, ifrit, ghul, dan Nightbringer. Oh, ya, aku memang penggemar dongeng seribu satu malam 😀

Sayangnya, aku agak kecewa di sisi romansanya. Sebagai penggemar genre romance, aku mengharapkan interaksi yang lebih banyak antara Laia dan Elias, atau Helene dan Elias. Atau Laia dan Keenan aja juga ngga papa deh, asalkan romance-nya ditambahin dikiiit lagi #ngarep# Ketertarikan antara Laia dan Elias menurutku dangkal, karena hanya berdasarkan fisik semata, tanpa ada elaborasi lebih jauh.

“Tepukan di bahuku semakin keras, dan aku berbalik, berniat mengusir Cadet itu. Namun, aku berhadapan dengan seorang gadis-budak yang mendongak menatapku melalui bulu matanya yang lentik. Getaran panas dan mendalam berkobar dalam diriku melihat matanya yang hitam cemerlang. Untuk sesaat, aku lupa namaku sendiri.”—hal. 151-152.

Beda halnya dengan hubungan Elias dan Helene. Mereka sudah bersahabat selama 14 tahun, dan selama itu mereka sudah mengalami berbagai hal bersama. Aku memang terbelah dalam hal ini. Aku mau Laia dan Elias jadian karena sepertinya mereka memang ditakdirkan bersama. Tapi aku juga senang kalau Elias akhirnya memilih Helene karena mereka serasi banget. Intinya, sama siapa pun Elias nanti, aku tetap dukung. Gimana dengan Laia dan Keenan? Yah, well, Keenan is a sweet boy, tapi aku nggak ngerasain chemistry yang berarti antara dia dan Laia. Jadi, aku lebih memilih untuk melihat dulu maaauuu dibaaawa ke mannaaa hubungan kitaaa #eaaaaa #malahnyanyik

Terus, menurutku tokoh utama wanita di buku ini adalah Helene, bukan Laia. Sebab, cerita lebih banyak berkisar di kehidupan Blackcliff serta Ujian yang sedang berlangsung, yang artinya lebih banyak menceritakan Helene, sedangkan Laia seakan stuck dalam tugas budak-garis-miring-mata-mata-nya. Tapi, aku senang mengikuti interaksi dia dengan Izzi, terasa alami layaknya gadis-gadis muda yang senang bergosip, walaupun yang mereka gosipkan adalah sang Komandan yang mengerikan.

Another downside, banyak adegan kekerasan di sini. Rape, slavery, abuse, lengkaplah pokoknya. Meski bikin aku sering mengernyit, aku bisa memahami karena latar cerita ini terinspirasi dari kehidupan Sparta yang keras.

Karakter

Tokoh sentral dalam novel ini secara garis besar ada lima, yaitu Laia, Elias, Keenan, Helene, dan Komandan Keris Veturia.

Laia digambarkan sebagai seorang gadis cantik yang memiliki rambut gelap dan mata emas. Dia cenderung penakut tapi memiliki daya juang yang kuat. Honestly, aku nggak terlalu terkesan sama dia. Aku lebih suka sama tokoh-tokoh yang badass dan sassy macam Feyre di ACOMAF gitu deh. Tapi aku paham kenapa dia digambarkan seperti ini. Maksudku, di sini kan sudah ada Helene yang kuat. Kalau Laia jagoan juga, ditambah lagi Komandan, bisa pusing entar si Elias dikelilingi cewek-cewek tangguh. Hehehe…

Oke, serius. Meskipun penakut, Laia sangat setia sama kakaknya. Dia rela mengambil risiko terbunuh demi menyelamatkan kakaknya dari penjara Imperium. Ini bikin aku respek sama dia. Andai aku di posisi dia, belum tentu aku sanggup menjalani apa yang Laia hadapi. It’s just… she’s not my type of heroine.

Elias Veturius, terlepas dari kemampuan bertarungnya yang mematikan, adalah pribadi yang halus dan lembut. Dia juga berparas tampan dengan perawakan yang tinggi dan gagah. Cewek mana pun pasti tergila-gila sama dia. Masalahnya, karena kepribadiannya yang halus dan lembut itu, Elias jadi agak-agak kurang tegas gitu. Apalagi kalau menyangkut masalah cinta. Dia ini bimbang terus bawaannya. Duh! Kalo di dunia nyata, dia ini pasti termasuk dalam gerombolan cowok yang sering PHP nih, walaupun tanpa sengaja.

Betewe, kalian bisa bayangin nggak sih gimana rasanya pakai topeng yang terbuat dari perak cair setiap hari, setiap waktu, tanpa bisa melepaskannya? Pasti gerah banget ya. Tapi itulah nasib yang harus dijalani oleh prajurit Mask. Seorang Mask harus mengenakan topeng perak seumur hidupnya. Topeng ini tidak biasa, karena begitu dikenakan, maka semakin lama topeng itu akan semakin menyatu dengan kulit wajah seolah menjadi kulit kedua bagi pemakainya. Yang unik sekaligus bikin merinding adalah, tampaknya, semakin topeng ini menyatu dengan kulit, segala kebaikan yang ada di diri si pemakai pun akan semakin menghilang, sampai akhirnya mereka akan menjadi prajurit yang tidak memiliki belas kasih. Namun, rupanya, hal ini tidak berlaku bagi Elias, karena topengnya tidak bisa menyatu dengan kulitnya. Elias benci banget pokoknya sama topengnya itu.

“…Aku benci cara topeng itu menempel padaku seperti semacam parasit. Aku benci cara topeng itu menekan wajahku, membentuk wajahku sedemikian rupa.”—hlm. 34.

Keenan di buku pertama ini masih agak misterius. Di awal pertemuan mereka, dia bersikap dingin pada Laia dan menentang keras saat Laia akan dikirim menjadi mata-mata Komandan. Menurutnya, Laia tidak akan mampu melakukan tugasnya dengan baik. Laia sebal karena Keenan meremehkannya. Tapi, lambat laun, cowok berambut merah ini mulai menunjukkan perhatian lebih pada Laia. Meski awalnya bersikap kasar, pada akhirnya dialah yang bersedia menolong Laia membebaskan kakaknya dan berusaha keras untuk mengeluarkan gadis itu dari Blackcliff.

Helene Aquilla adalah satu-satunya Mask perempuan di Blackcliff, selain sang Komandan. Dia juga salah satu prajurit terbaik di Blackcliff dan merupakan sahabat terdekat Elias. Saking dekatnya, Elias menganggap Helene sebagai dirinya yang lain. Namun demikian, Helene sangat berbeda dengan Elias yang cenderung memberontak. Helene sangat patuh pada peraturan dan setia pada Imperium. Dia gadis yang cantik dengan rambut pirang keperakannya yang menawan dan tubuhnya yang tinggi dan langsing.

Aku bersimpati banget sama Helene, soalnya dia ini kok malang banget ya. Laia masih punya kebebasan untuk memilih, tapi Helene tidak punya pilihan selain patuh dan setia pada Imperium. Yang paling bikin ngenes itu, tentu saja, cintanya pada Elias yang bertepuk sebelah tangan.

“Mencintaimu adalah hal terburuk yang pernah terjadi padaku—lebih buruk daripada cambukan Komandan, lebih buruk dari Ujian. Ini siksaan, Elias.”—hlm. 380.

Puk puk Helene 😥

Keris Veturia adalah tokoh yang paling bikin aku penasaran. Dia ini kayak yang tahu segala-galanya, padahal dia cuma manusia biasa, walaupun emang sih dia salah satu Mask paling kuat di Imperium. Terus, dia ini seperti punya agenda sendiri, entah apa motif dan tujuannya. Aku juga nggak habis pikir, kenapa dia benci banget sama Elias. Sekesal-kesalnya sama anak, yang namanya ibu pasti sayang donk ah sama anaknya #emakbaper -_-

Ending

Seperti halnya novel-novel serial lainnya, ending cerita ini menggantung. Tapi tenang aja, karena buku kedua versi English-nya sudah terbit, jadi seharusnya kita bisa berharap nggak perlu terlalu lama nungguin versi terjemahannya.

Alih bahasa dan desain cover

Dari segi terjemahan, kuacungkan dua jempol buat Yudith Listiandri. For your information, sebelum versi bahasa Indonesia ini terbit, aku sudah baca versi English-nya, jadi aku bisa bandingin. Aku salut sama penerjemahnya karena berhasil mengalihbahasakan novel ini secara mengalir dan enak dibaca.

Cover buku ini cantik banget. Paling cantik dari semua versi yang ada, menurutku. Buat para bibliophile dan bookstagrammer di luar sana, buku ini pas banget buat kalian untuk dikoleksi karena very collectable and instagramable. Ditambah lagi bookmark yang menjadi bonusnya juga keren banget.

Overall

Ini salah satu novel young-adult paling keren yang pernah aku baca sampai saat ini. Cerita yang memukau, terjemahan yang mengalir lancar, plus desain cover dan bookmark yang cantik bikin novel ini layak menghuni rak novel kamu. Dan, kalo kamu penggemar genre distopia, thriller, misteri, dan nggak terlalu keberatan sama scene-scene yang agak sadis, then this one is definitely for you.

My rating: ♥♥♥♥♥

banner-ember-blogtour

And now, giveaway tiiiiime! ^_^

Oke, seperti yang mungkin sudah kalian tahu, bakalan ada giveaway di akhir blogtour ini. Akan ada satu buah buku An Ember in the Ashes untuk satu pemenang, dan satu buah merchandise keren untuk satu pemenang. Syarat untuk mengikuti giveaway ini sebagai berikut.

  1. Follow akun Instagram @gitaputeri.y atau add FB Gita Puteri Yani
  2. Follow akun Instagram @penerbitspring atau Like FP Penerbit Spring
  3. Follow blog Rak Novel Gita melalui wordpress atau email.
  4. Jawab pertanyaan dari masing-masing host blogtour. Untuk mengetahui pertanyaan lainnya, silakan kunjungi blog Gea, Tya, Ratna, dan Nay.

Pertanyaan hari keempat:

Siapa nama lengkap ibu kandung Elias?

Gampang banget, kan. Jawabannya tuliskan di kolom komentar di FP Penerbit Spring bersama jawaban pertanyaan dari host blogtour lainnya pada tanggal 24 Desember 2016 nanti.

Sementara menunggu giveaway utama, ikutan mini giveaway dulu ya. Hadiahnya berupa collectable bookmark set An Ember in the Ashes untuk satu orang pemenang. Caranya sebagai berikut.

1. Follow akun Instagram @gitaputeri.y atau add FB Gita Puteri Yani

2. Follow akun Instagram @penerbitspring atau Like FP Penerbit Spring

3. Follow blog Rak Novel Gita melalui wordpress atau email.

4. Share artikel ini ke media sosialmu dan beri hashtag #GAEmberRakNovelGita

5. Jawab pertanyaan berikut.

a. Kalo kamu jadi Laia, siapa yang kamu pilih, Elias atau Keenan? Kenapa?

b. Kalo kamu jadi Helene, mana yang lebih utama buat kamu, Imperium atau cinta? Kenapa?

6. Tuliskan data dan jawaban kalian di kolom komentar di bawah ini dengan format:

Nama:

Link share:

Jawaban:

Mini giveaway ini akan ditutup pada tanggal 25 Desember 2016 pukul 23.59 WIB. Pemenangnya akan aku umumin secepatnya di blog dan Instagram-ku.

Good luck and until my next post, Fellas!

Gita

[Resensi] Sunshine Becomes You by Ilana Tan

13232499

Sinopsis

“Walaupun tidak ada hal lain di dunia ini yang bisa kaupercayai, percayalah bahwa aku mencintaimu. Sepenuh hatiku.”

Ini adalah salah satu kisah yang terjadi di bawah langit kota New York…

Ini kisah tentang harapan yang muncul di tengah keputusasaan…

Tentang impian yang bertahan di antara keraguan…

Dan tentang cinta yang memberikan alasan untuk bertahan hidup.

Awalnya Alex Hirano lebih memilih jauh-jauh dari gadis yang itu—malaikat kegelapannya yang sudah membuatnya cacat. Kemudian Mia Clark tertawa dan Alex bertanya-tanya bagaimana ia dulu bisa berpikir gadis yang memiliki tawa secerah matahari itu adalah malaikat kegelapannya.

Awalnya mata hitam yang menatapnya dengan tajam dan dingin itu membuat Mia gemetar ketakutan dan berharap bumi menelannya detik itu juga. Kemudian Alex Hirano tersenyum dan jantung Mia yang malang melonjak dan berdebar begitu keras sampai Mia takut Alex bisa mendengarnya.

*****

Akhirnya, kesampaian juga baca novel best-seller yang satu ini. Karena terbitnya udah dari kapan tahun, aku yakin banyak dari kalian yang sudah tahu jalan ceritanya. Jadi, di resensi kali ini, aku tidak akan menuliskan rangkuman ceritanya ya 🙂

Berkali-kali aku bilang aku nggak suka novel yang sad-ending, soalnya aku tipe yang susah move on setiap kali selesai baca novel, apalagi novel yang ceritanya emang keren. But this one… this one is so d*mn beautiful. Makanya aku nekat aja nerusin novel ini meski tau resikonya. Mau gimana lagi? Alex Hirano bikin aku klepek-klepek, Mia Clark bikin aku jatuh sayang. Dan selama baca novel ini, mau nggak mau aku jadi terus ngebayangin muka kiyutnya Herjunot Ali yang meranin Alex Hirano di versi layar lebarnya. Haha…

090256100_1439372275-sby_1

Duh, Bang Junooot >_<

Anyway, aku jadi ngerti kenapa novel-novel Ilana Tan selalu jadi best-seller. Sunshine Becomes You, meskipun mellow dan agak-agak klise, ceritanya indah. Jalinan kisahnya mengalir dengan cantik dan natural. Dan aku paling suka dengan hubungan Alex dan Mia yang berkembang secara alami. No fancy words, no exaggerated romantic scenes ala-ala drama Korea. Namun demikian, aku tetap ikutan berdebar-debar saat Alex dengan santainya bilang kalau dia mau menikah dengan Mia.

“Kurasa satu-satunya hal yang bisa membuatku memanggilmu nama depanmu adalah kalau kau menikah denganku.”

Kali ini Mia merasa jantungnya melonjak dan ia menatap Alex dengan mata melebar kaget.

Alex balas menatapnya sambil tersenyum lebar. “Kalau itu terjadi, berarti kau menjadi Mia Hirano. Dan saat itu aku tidak mungkin memanggilmu dengan nama belakang, bukan?”

Mia tidak berkata apa-apa. Ia tidak sadar dirinya menahan napas. Ia hanya tahu jantungnya mendadak berdebar begitu cepat dan keras sampai ia takut akan mendapat serangan lagi.

Terus, di novel ini juga nyaris nggak ada pernyataan ‘aku cinta padamu’, ‘I love you’, ‘saranghae’, ‘wo ai ni’ de el el de es be ge yang biasanya selalu menghiasi novel-novel roman. Namun, ketiadaan ungkapan cinta tersebut justru menjadikan keseluruhan cerita Alex dan Mia ini semakin indah. Di sini Ilana Tan membuktikan bahwa cinta tidak selalu harus diungkapkan dengan kata-kata manis dan sendu mendayu-dayu. Justru, cinta yang diungkapkan melalui sikap dan perbuatan itu lebih bermakna dan mengena di hati. Walaupun kalau disuruh milih sih, aku tetap aja mau suamiku nyatain cinta lewat kata-kata 😀

Untuk plotnya sendiri memang lambat khas novel-novel roman dan cenderung membosankan. Kamu nggak bakalan deh nemu adegan ciat, ciat dalam novel ini. Ya jelas donk ah, emangnya novel silat pakek ciat, ciat segala. Bagi yang bukan penggemar cerita roman, mungkin novel ini bakalan bikin kamu ketiduran saking bosannya, tapi buat penggemar cerita cinta, novel ini akan membuatmu mendesah penuh khayal, membayangkan ada sosok cool seperti Herjunot Ali, eh, Alex Hirano yang jatuh cinta padamu. Setidaknya, itu yang terjadi padaku.

“Aku tidak bisa menunjukkan kelemahan seperti itu di hadapannya. Dia membutuhkan seseorang yang bisa mendukungnya, seseorang yang bisa membantunya ketika dibutuhkan, yang bisa diandalkannya, seseorang yang bisa meyakinkannya bahwa segalanya akan baik-baik saja. Jadi kuputuskan aku harus menjadi orang seperti itu.” Alex menoleh ke arah Ray dan tersenyum samar.

Sejenak Ray tidak bisa berkata apa-apa, hanya bisa terpana dalam diam ketika menyadari perasaan Alex. “Kau… sangat mencintainya, bukan?”

Alex mengerjap. Matanya yang muram terlihat berkaca-kaca ketika menggumamkan dua patah kata dari dasar jiwanya dengan lirih. “Sepenuh hati.”

Nggggg… bentar ya, aku mau meleleh dulu. Nggak ku-ku sama jawaban Alex yang ooohhh… :3

Nabilah-JKT48-dan-Herjunot-Ali-dalam-film-Sunshine-Becomes-You

Overall, buku ini memang recommended buat pecinta novel roman, walaupun pilihanku tetap pada novel-novel dengan happy-ending siiih. Dan meskipun di bagian akhirnya bikin termehek-mehek, buku ini cukup menghibur kok. Bisa lah dijadikan teman untuk menghabiskan waktu santai di akhir pekan.

My rate: ♥♥♥♥ (4 of 5)

Until my next post,

Gita

*Pictures credit to Google Images.

[Resensi] The Iron King by Julie Kagawa

Seri: The Iron Fey #1

Genre: Young Adult

Penerjemah: Angelic Zaizai

Penerbit: Kubika

Halaman: 462

Harga: Rp. 42.000,-

Sumber: Beli (paperback)

Sinopsis

Klik untuk memperbesar

Kayaknya telat banget ya ngulas novel ini sekarang. Secara buku ini kan terbitnya udah tahun 2011 kemarin. Ya mau gimana lagi dong, namanya juga kudet baru nemu. Itu pun juga nggak sengaja >.<

Serial ini mengisahkan tentang seorang remaja yang baru berumur 16 tahun kurang 24 jam, Meghan Chase. Kalau dilihat sekilas, Meghan tipe anak normal dan biasa saja. Dia pergi ke sekolah, dibebani pekerjaan rumah dan tugas sekolah, dan naksir cowok pemain football paling keren di sekolah. Dia bukan cewek populer di sekolahnya, tapi dia lumayan cerdas dan cantik. Namun, dia punya masa lalu yang suram, karena saat usianya enam tahun, ayahnya menghilang di depan matanya. Walaupun sekarang dia sudah punya ayah baru dan seorang adik tiri laki-laki yang manis, tetap saja kejadian itu meninggalkan luka yang mendalam pada dirinya.

Menjelang ulang tahunnya yang ke-16, serangkaian peristiwa aneh dialaminya. Mulai dari sahabat baiknya, Robbie Goodfell, yang bersikap aneh dan overprotektif padanya, seorang pemuda tampan yang mengamatinya dari jauh, dan adiknya, Ethan, yang menyerangnya, padahal biasanya anak itu sangat manis dan penurut. Setelah mendesak Robbie agar mengatakan yang sebenarnya, akhirnya Meghan mengetahui bahwa Ethan yang menyerangnya adalah seekor changeling, sedangkan Ethan yang sebenarnya diculik ke Faeryland, negeri para faery, bahwa para faery itu benar-benar ada dan nyata, dan bahwa sahabatnya yang sudah dia kenal nyaris seumur hidupnya ternyata seorang faery legendaris bernama Robin Goodfellow alias Puck. Meski masih merasa sulit untuk percaya, Meghan memutuskan untuk pergi ke Faeryland demi mencari adiknya. Dan petualangan yang akan mengubah hidup Meghan selamanya pun dimulai.

Di Faeryland, Meghan mengalami berbagai macam kejadian yang menegangkan. Mulai dari nyaris jadi kudapan kelpie, dikejar-kejar anjing pemburu beserta pemiliknya yang bisa menembakkan panah es, membuat kesepakatan dengan seekor kucing menyebalkan, ditangkap sekelompok goblin yang ingin memasaknya hidup-hidup, nyaris tenggelam, dan berhadapan dengan seorang ratu faery paling bitchy yang pernah ada yang ingin mengubahnya menjadi kubis. Tapi, dari itu semua, tak ada yang lebih mengejutkannya selain mengetahui fakta bahwa dia ternyata seorang putri raja. Dan bukan sembarang raja, melainkan Oberon sang raja peri Musim Panas yang termahsyur, bahkan di dunia mortal sekalipun. Yep, ternyata Meghan separuh manusia-separuh faery, alias berdarah campuran.

Karena kenyataan ini, hidup Meghan jadi susah dan serba salah. Rencana awalnya datang ke Faeryland kan sederhana aja, cuman buat nyelametin adiknya. Kalo sudah selesai, ya dia pulang lagi. Etapi, dia malah terjebak dalam perang yang nyaris meletus di antara Kerajaan Musim Panas dan Musim Dingin. Dia mendapati semua pihak menginginkan dirinya untuk dijadikan pion untuk melawan ayahnya, Raja Oberon. Dia juga masih belum tahu siapa yang telah menculik adiknya. Ditambah lagi, dia harus menghadapi kemarahan ibu tirinya, Ratu Titania, dan seorang pangeran berhati es tapi seksi dari kerajaan Musim Dingin yang ingin membunuhnya.

Di tengah hiruk-pikuk itu, Meghan menyadari ada sesuatu yang tengah mengancam Nevernever serta kehidupan seluruh faery, dan hanya dirinyalah yang mampu menghadapi bahaya tersebut. Apa sebenarnya bahaya itu? Dan siapa yang menculik adik Meghan? Langsung baca novelnya aja yah ^^

*****

Ada penggemar Shakespeare di sini? Para penggemar sang maestro asal Inggris ini pasti tahu deh kalo beberapa tokoh peri dalam novel ini diambil dari A Midsummer Night Dream. Aku sendiri bukan penggemarnya, tapi aku tahu A Midsummer Night Dream ini dari salah satu komik favoritku sepanjang masa, Topeng Kaca yang seri Sejuta Pelangi karya komikus Jepang, Suzue Miuchi. What a coincidence, karena kedua pengarang yang namanya sama-sama Japanesse ini menggunakan karya ini dalam buku mereka.

Anyway, kalo menurutku, novel The Iron King ini nyaris perfect. Kelebihannya ada pada cliffhanger yang bikin pembaca ketar-ketir. No wonder, soalnya Julie Kagawa memang terkenal sebagai queen of cliffhanger. Do’i juga nggak takut loh “membunuh” major character yang punya banyak fans. Tapi, justru di situlah kelebihan Julie Kagawa. Cliffhanger-nya yang ngeri-ngeri sedap itu justru bikin aku ketagihan. Bwahahaha… #masokis :p

Dari segi cerita juga nggak mengecewakan. Fantasi, romance, petualangan, semua ada dan imbang. Dan yang paling penting tuh adalah konsistensi cerita. Maksudku, jalan ceritanya nggak melenceng ke hal-hal yang nggak perlu. Fokus aja gitu. Plotnya yang lumayan cepat dan ditambah dengan aksi pertarungan sengit yang dilakoni Puck dan Ash demi melindungi Meghan, bikin novel ini dijamin nggak ngebosenin. Dan satu lagi, novel ini nggak bisa ditebak jalan ceritanya. Beberapa kali aku nebak kalo jalan ceritanya bakalan seperti ini, ternyata seperti itu. Bahwa si Oberon itu anu, eh ternyata nggak. Pokoknya, berkali-kali deh aku kecele sama novel ini :v

Untuk tokoh-tokohnya, harus kukatakan bahwa mereka semua perfect. Bukaaan, bukan sempurna yang flawless gitu yah. Maksud perfect di sini adalah semua tokoh membuatku merasakan perasaan yang tepat. Contohnya, Titania bikin aku sebel banget dengan ke-bitchy-annya, Mab bikin aku merinding dengan aura kegelapannya, Oberon bikin aku segan dengan kewibawaannya, dan sebagainya.

Para tokoh utamanya pun memiliki karakter yang bagus. Semuanya punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Meghan adalah tokoh paling lemah di buku ini karena dia nggak punya kekuatan faery maupun kemampuan bertarung. Bahkan, dia gadis yang cenderung ceroboh dan penakut. Tapi, di sepanjang buku ini—dan serial ini secara keseluruhan—dia menunjukkan perkembangan karakter yang bagus yang ditandai dengan kekuatan faery-nya yang sedikit demi sedikit bertambah. Dia juga lumayan cerdas dan mampu membuat keputusan sendiri. Dan dia bisa jadi sangat galak kalau sedang terdesak, which is fun to watch 😀

Ash, sang Pangeran Musim Dingin, putra bungsu Ratu Mab. This guy is sooo HOT! And cool. And sweet. And tormented. Seriously! Ini jenis cowok yang bikin cewek mana pun susah move on. Siapa pun yang pernah baca serial ini pasti klepek-klepek sama pangeran es ini. Kuat, tangguh, keren, dan setia. Oh, my! If I could have him, I wouldn’t ask for more #sigh #tendangpapanyaaryakelaut :v :v :v Ash ini walaupun keliatannya nafsu banget pengin ngebunuh Meghan, tapi dia rela jadi tameng Meghan setiap kali ada yang menyerang. Pokoknya sweet banget deh.

Puck adalah bawahan favorit Raja Oberon dan BFF-nya Meghan. Dia ini memang tipe cowok yang oke banget dijadiin sohib. Supel, ceria, usil dan mulut comelnya itu emang selalu bikin tertawa. Tapi, meskipun tingkahnya cuek dan konyol, dia ini ternyata petarung yang sangat tangguh loh. Dan dia nggak kalah setia dari Ash, serta rela banget berkorban demi Meghan. Definitely a lovable character deh pokoknya. Makanya, nggak heran kalo fans-nya bejubel.

The last but not least, is Grimalkin. Si kucing sinis nan cerdas ini adalah karakter favoritku dalam serial ini. Kata-katanya yang cenderung nyelekit itu refreshing banget dan bikin ngakak (okay, now I’m officially a masochist :v). Tapi, walaupun dia jengkelin banget, si kucing misterius ini selalu muncul di waktu yang tepat untuk memberikan pertolongan pada Meghan, Ash, dan Puck, meskipun tetep ya dengan gaya bosan dan angkuhnya yang gemesin banget itu. Oya, kalau ada yang bertanya-tanya Grim ini kucing yang kayak apa, inget Chesire Cat, tokoh kucing di Alice in Wonderland? Nah, Grim tuh kurang-lebih kayak gitu. Cuman sifat mereka jauuuuuh berbeda. Kalo Chesire Cat kan hobinya nyengir lebar, tapi kalo Grim sukanya menghela napas :v :v :v

As much as I love this book, tetap ya, tiada gading yang tak retak. Tentu saja, buku ini juga punya sisi yang, um… kurang. Yah, setidaknya kurang buatku. Aku ngerasa kurang greget aja pas pertarungan di bagian akhir buku ini. Sejujurnya aku mengharapkan scene yang lebih chaos, berdarah-darah kalo perlu. Tapi kalo begitu bukan young adult kali yah namanya, tapi horor. Wkwkwk… But, it’s not a big deal, really. Most readers won’t complain about it, I’m sure.

Sayangnya, untuk versi bahasa Indonesia, kayaknya stuck di buku pertama ini. Padahal di Amrik sana sudah sampai buku enam, plus enam novella. Yang buku pertama ini pun susah banget didapetnya. Aku sampe harus ngubek-ubek Tokopedia dan googling sampe mata jereng baru deh dapat yang jual. So, kalo kalian mau baca lanjutannya, kayaknya harus beli versi e-book-nya deh. Di Google Play Store ada kok. Oooh… how I love technology these days 😀

Fiuh… panjang ya, cyiiin. Ya udah deh, segitu ajah ulasannya. Kapan-kapan aku review juga lanjutannya. But, for now, aku mau lanjut ngubek-ubek Goodreads lagi. Sapa tau nemu young adult fantasy yang highly recommended lagi ^^

My rate: ♥♥♥♥½ (4.5 of 5)

Readers, have you read the book? What do you think about it? Do you have a recommendation for me to read? Kindly share your thoughts below ^^

The Series:

The Iron Fey

  1. The Iron King
  2. The Iron Daughter
  3. The Iron Queen
  4. The Iron Knight

The Iron Fey: Call of the Forgotten

  1. The Lost Prince
  2. The Iron Traitor
  3. The Iron Warrior

Novella

  1. The First Kiss (The Iron Fey #1.25)
  2. Winter’s Passing (The Iron Fey #1.5)
  3. Summer’s Crossing (The Iron Fey #3.5)
  4. Ash’s Letter to Meghan (The Iron Fey #3.6)
  5. An Iron Fey Valentine (The Iron Fey #4.4)
  6. Iron’s Prophecy (The Iron Fey #4.5)