[Resensi] Loving the Pain by Rara Ayu

IMG_20170614_094611-01

🌸 Detail Buku

PhotoGrid_1497423512794

🌸 Blurb

PhotoGrid_1497422432785

🌸 Sinopsis

“Cinta itu bukan siapa yang kuat maka dialah yang bertahan. Tapi cinta adalah siapa yang ikhlas maka dialah yang menang.”

Risa Kirana, seorang karyawan berusia 24 tahun, hanya menginginkan kehidupan yang tenang bersama putranya, Kayhan, yang baru berumur 5 tahun. Risa menjalani hidupnya dengan riang dan penuh semangat. Namun, segalanya mulai berubah sejak dia bertemu dengan CEO perusahan tempat dia bekerja.

Javier Cana Gomez adalah seorang pria yang sukses meskipun usianya masih muda, 27 tahun. Dia tampan dan berkuasa sehingga banyak wanita yang menginginkan dirinya. Namun sayang, sepertinya dia tidak tertarik.

Risa dan Javier bertemu secara tak sengaja. Risa ternyata bekerja di perusahaan tempat Javier menjadi CEO-nya. Sejak pertemuan pertama mereka, Javier sudah merasakan ketertarikan yang tak biasa pada Risa. Ketertarikannya semakin meningkat seiring interaksi mereka yang semakin sering, hingga pada akhirnya Javier memutuskan untuk menjadikan Risa miliknya.

Apakah Risa menerima sang pria idaman? Ternyata tidak. Risa tidak membutuhkan pria. Setidaknya, tidak untuk saat ini. Tapi, Javier sangat gigih dalam mengejarnya sehingga sering kali membuat Risa kelimpungan sendiri. Ditambah lagi, Kayhan sangat menyukai si β€˜Om Api’ ini. Setelah mempertimbangkan segalanya, Risa akhirnya menerima Javier.

Risa berharap dia bisa memulai hidup baru yang bahagia bersama Javier dan Kayhan. Akan tetapi, sejumlah rahasia masa lalu justru terkuak. Rahasia-rahasia pahit yang mengancam kebahagiaan Risa dan Javier. Kembalinya orang-orang dari masa lalu mereka membuat situasi menjadi semakin sulit, sehingga keadaan tersebut memaksa Risa mengambil keputusan-keputusan yang sulit dan menyakitkan.

πŸ€πŸ€πŸ€

🌸 What I ❀

Aku suka dengan kemampuan penulisnya dalam merangkai kata-kata sehingga menjadi untaian kalimat yang indah. Ide ceritanya pun lumayan bagus. Hanya saja memang masih perlu dipoles lagi agar lebih halus.

🌸 What I πŸ’”

Ada beberapa poin yang menjadi catatanku selama membaca novel ini.

1. Untuk karakter, harus kuakui, mereka gagal membuatku terpesona. Javier bikin aku pengen makan batako saking sebelnya, dan Risa bikin aku pengen garuk-garuk tembok pakai garu saking geregetannya dengan sikap dan keputusannya. Sedangkan untuk tokoh figurannya, sayang sekali, nggak ada yang berkesan buatku.

2. Terlalu banyak konflik dan drama tapi minim emosi. Novel ini tebal, tapi pendalaman emosi setiap tokoh masih kurang. Padahal dengan sekian banyaknya konflik, emosi para tokoh bisa lebih dieksplorasi lagi. Menurutku akan lebih bagus jika konfliknya fokus pada satu atau dua hal namun dieksplorasi secara mendalam sehingga bangunan cerita dan karakternya lebih kuat.

3. Terlalu banyak adegan dewasa, padahal Β menurutku adegan-adegan itu nggak ngaruh sama sekali buat jalan cerita. Dua atau tiga adegan ciuman dan adegan ranjang nggak masalah buatku. Tapi, kalauΒ hot scene-nya hanya berjarak 2-3 lembar dariΒ hot scene sebelumnya bagiku itu terlalu berlebihan.

4. Penulis terlalu sering menggunakan kata “entahlah” dan “sudahlah” ketika sedang mendeskripsikan suasana atau alur berpikir sang tokoh sehingga bikin narasinya ngambang. Terus terang, ini cukup disayangkan. Sebab, saat aku lagi serius-seriusnya memahami para karakter, tiba-tiba penjelasan itu berhenti di tengah jalan, yang mana itu bikin aku bingung.

5. Di awal-awal, aku merasa plotnya terlalu cepat berpindah-pindah sehingga bikin aku bingung dan pusing. Untungnya, di pertengahan cerita hal ini membaik.

6. UntukΒ scene-sceneΒ yang sangat penting dan yang mendekati klimaks, penulis justru memilih untuk melewatkannya dan hanya menjelaskannya melalui dialog para tokoh. Ini sangat disayangkan, sebab jika penulis lebih mengeksplorasiΒ bagian-bagian tersebut, menurutku akan menjadi poin lebih yang akan menguatkan cerita dalam novel ini.

7. Untuk segi teknis, mohon maaf, dengan sangat terpaksa harus kukatakan, bahwa penyuntingannya nggak bagus, kalau nggak mau dibilang ancur. Mulai dariΒ typoΒ yang bertebaran hingga tata bahasa dan EYD yang berantakan. Ini benar-benar mengganggu dan memperlambat proses membaca. Sebab, setiap kali aku nemuΒ typo atau tata bahasa yang nggak sesuai, mau nggak mau aku langsung terhenti bacanya sambil mikir.

8. Nggak ada label DEWASA pada novel ini, padahal novel ini jelas untuk 21+. Aku berharap ini menjadi perhatian pihak penerbit. Menurutku label pada novel sangat penting karena ini yang menjadi acuan bagi para pembaca untuk menyeleksi bahan bacaan yang sesuai dengan umur mereka.

🌸 Cover

Pertama kali liat kovernya, entah kenapa aku teringat sama novel-novelnya Marga T. yang terbit tahun ’80-’90an. Kesannya jadul banget πŸ˜„ Aku nggak terlalu suka sama desainnya, tapi aku suka sama warna kuningnya yang kalem.

🌸 Overall

In my humble opinion, novel ini memang masih banyak kekurangannya, tapi, bukan berarti aku nggak menghargai karya penulis. Bagaimanapun juga, bukanlah suatu hal yang mudah untuk melahirkan sebuah karya. Namun demikian, sebuah karya perlu melalui berbagai proses dan polesan agar dapat dinikmati oleh para pembaca. Dalam hal ini, peran editor tentu sangat vital. Kritikanku di sini bukan hinaan, melainkan saran yang aku harap dapat membangun ke arah yang positif. Semoga ke depannya nanti, penulis mampu melahirkan karya yang lebih baik lagi. SEMANGAT! πŸ’ͺπŸ’ͺπŸ’ͺ

🌸 Final verdict

PhotoGrid_1497424089223

🌸 Rekomendasi

Aku merekomendasikan novel ini buat kamu yang suka dengan cerita roman dengan bumbu drama keluarga yang kental.

 

Xoxo,

Gita 😘